3
Februari 2015 aku mencoba test pack lagi
untuk yang kedua kalinya. Karena bulan Juni aku sudah tidak haid lagi. Hasilnya
ada garis dua merah di tes packnya. “Aku
hamil”. Ya, aku hamil kawan-kawan. Ku peluk suamiku dan mengatakan “Mas, aku
hamil”. Tampak sumringah di wajahnya, namun sekaligus bingung apa yang harus ia
lakukan. Aku tahu itu dari wajahnya. Hehe..aku memakluminya karena ini kali
pertamanya berita ini aku ungkapkan. Mungkin ketakutan terhadap rizki. “Ku katakan
padanya bahwa janin ini juga membawa rizki. Pasti Allah SWT tak akan
menelantarkan kita,” kataku yang memang selalu berharap bisa hamil segera.
Menyusul kakak dan adikku serta sepupuku yang sudah punya anak.
Hamil trimester
pertama. Banyak hal yang aku lalui di sana. Mulai dari mual-mual, ga bisa
tidur, hingga sikap manja kutuangkan kepada suamiku. Memang aku tidak nyidam seperti wanita hamil lain pada
umumnya. Karena anakku tentu tahu bahwa aku jauh dari suamiku.
Aku masih bekerja
di Sidoarjo saat ini, hingga nanti saat tahun ajaran baru, 13 Juni 2015. Sejak pernikahan
bulan Desember 2014 lalu hingga 6 bulan ini kami masih seminggu sekali/saat
tanggal merah kami bertemu. Kadang di rumah Surabaya, kadang juga di Lamongan. Semua
kuhadapi dengan riang gembira.
Saat ini,
25 februari 2015 ketika aku menuliskan diary ini, usia kandunganku sudah
menginjak 5 bulan setengah. Kemarin Ahad, saat aku dan suamiku kontrol ke
dokter kandungan, Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan. dr. Yanti, spesialis
kandungan mengatakan bahwa bayiku Alhamdulillah sehat. Dan masih dalam posisi
tengkurap saat di USG, makanya belum terlihat jenis kelaminnya. Bagiku tak apa,
mungkin nanti saat USG yang ke 6 bulan. Yang terpenting saat ini adalah bayiku sehat.
Itu aja. Mungkin tidak banyak yang kukonsumsi. Asupan vitamin yang dianjurkan dokter
tidak aku tebus. Karena ada teman yang mengatakan lebih baik makan banyak
sayur, buah, dan susu saja. Serta sari kedelai ataupun beras merah. Aku lakukan
semuanya. Aku minum susu dan banyak sekali makan sayur. Terutama saat aku
berada di kontrakan. Memang sayur harganya lebih murah. Jadi lebih irit
patungan dengan teman.
Akan
kutanamkan dalam benak janinku bahwa kesederhanaan itu penting. Aku tak memasak
ikan, daging, atau yang lainnya. Karena memang kondisi di kontrakan sangat
sederhana. Belum lagi persiapanku keluar dari sekolahku di Sidoarjo ini untuk
berpindah tinggal bersama suamiku di Lamongan. Ini sudah jalan pikiranku dan
mungkin tidak sama dengan kedua saudaraku.
Aku sudah
mempersiapkan semuanya sejak bulan Februari kemarin. Aku mengajukan surat
pengunduran diri dengan alasan mengikuti suami di Lamongan sekaligus persiapan
persalinan. Semoga janinku tetap sehat selalu.
Selain aku
persiapkan surat pengunduran diri dari sekolahku ini, aku persiapkan juga
kepindahanku mengajar di tempat lain. Aku melamar di berbagai sekolah di Lamongan.
Terutama sekolah-sekolah yang sama-sama IT, aku mulai mempersiapkan usahaku,
mulai dari membeli mesin obras hingga rencanaku membeli mesin kaos dan bordir.
Aku juga mendaftar di komunitas menulis FLP Lamongan. Aku ingin benar-benar
terkondisikan di Lamongan. Aku tidak ingin hanya sebagai ibu RT saja. Aku ingin benar-benar membantu suamiku dan
menunjukkan ke anakku bahwa ibunya adalah ibunya yang plus-plus. Plus sekalius
bisa mengasuh serta mendidik anak kelak tentunya.
Aku mendapat
panggilan setelah aku melamar di Lamongan. Tanggal 13 April 2015 aku diminta
untuk magang selama 1 pekan di sekolah yang akan aku singgahi kelak. Aku juga
mendapat panggilan interview di sekolah tersebut kemarin Jumat, 22 Mei 2015. Ya
tentu aku jawab sesuai dengan kredibilitas serta alasanku bekerja di sana. “Alasan
keluarga”.
Insya Allah
apa yang aku rencanakan ini akan berjalan dengan lancar. Aamiin
****
Semalam,
saat aku tidur di Lamongan, dua kali aku merasakan kram yang amat sangat di
bagian betis kanan kiriku. Rasanya sakit sekali. Memang sebelumnya aku
kesana-kemari bersama suami tercintaku itu. Aku berkunjung ke rumah temannya,
ke RSM, kemudian aku membantu ibu metua membersihkan dan merapikan rumah
setelah ada bongkar pasang kamar di rumah beliau kemudian malamnya aku
jalan-jalan di alun-alun Lamongan bersama suami, kakakku, kakak ipar, dan tentu
keponakanku yang menggemaskan Yardan.
Ibu
mertuaku itu sangat baik kepadaku. Memang dia adalah sosok ibu yang lembut, dan
pengertian. Aku yang tak bisa masak pun juga dimakluminya. Aku yang hanya bisa
cuci baju tapi kurang bersih juga dimakluminya, hingga pemisahan piring dan
gelas saat cuci piring, mana yang harus didahulukan pun aku diajarinya.
Liku-liku
bersama ibu mertua kujalani dengan senang hati. Layaknya saat aku training di tempat kerjaku untuk bisa
beradaptasi dengan baik di tempat itu. Kadang banyak salahnya, kadang kritikan
yang terlontar dari mulut ibuku itu. Aku anggap kritikan itu sebagai
pembelajaran untukku. Ibuku itu bukan sebagai ibu mertuaku, namun aku anggap
sebagai ibuku sendiri. Maklum memang aku sudah tak punya ibu sejak aku kelas 3
SMA. Hanya eyang uti sebagai pengganti ibuku. Namun, tentu eyang uti yang
pertama. Dan aku sangat menyayangi eyang uti lebih dari diriku sendiri.
Hingga tadi
pagi kawan, sebelum aku berangkat kembali ke Sidoarjo, pukul 4 pagi. Ibu
menyiapkan teh hangat dan memberi bekal aku roti dan pisang. Namun ternyata
ketinggalan di sepeda motor suamiku ketika aku diantar menunggu bus di Plaza
Dapur Lamongan. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar