Minggu, 24 Mei 2015

Ketika Aku Hamil



          3 Februari 2015 aku mencoba test pack lagi untuk yang kedua kalinya. Karena bulan Juni aku sudah tidak haid lagi. Hasilnya ada garis dua merah di tes packnya. “Aku hamil”. Ya, aku hamil kawan-kawan. Ku peluk suamiku dan mengatakan “Mas, aku hamil”. Tampak sumringah di wajahnya, namun sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan. Aku tahu itu dari wajahnya. Hehe..aku memakluminya karena ini kali pertamanya berita ini aku ungkapkan. Mungkin ketakutan terhadap rizki. “Ku katakan padanya bahwa janin ini juga membawa rizki. Pasti Allah SWT tak akan menelantarkan kita,” kataku yang memang selalu berharap bisa hamil segera. Menyusul kakak dan adikku serta sepupuku yang sudah punya anak.
Hamil trimester pertama. Banyak hal yang aku lalui di sana. Mulai dari mual-mual, ga bisa tidur, hingga sikap manja kutuangkan kepada suamiku. Memang aku tidak nyidam seperti wanita hamil lain pada umumnya. Karena anakku tentu tahu bahwa aku jauh dari suamiku.
Aku masih bekerja di Sidoarjo saat ini, hingga nanti saat tahun ajaran baru, 13 Juni 2015. Sejak pernikahan bulan Desember 2014 lalu hingga 6 bulan ini kami masih seminggu sekali/saat tanggal merah kami bertemu. Kadang di rumah Surabaya, kadang juga di Lamongan. Semua kuhadapi dengan riang gembira.
Saat ini, 25 februari 2015 ketika aku menuliskan diary ini, usia kandunganku sudah menginjak 5 bulan setengah. Kemarin Ahad, saat aku dan suamiku kontrol ke dokter kandungan, Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan. dr. Yanti, spesialis kandungan mengatakan bahwa bayiku Alhamdulillah sehat. Dan masih dalam posisi tengkurap saat di USG, makanya belum terlihat jenis kelaminnya. Bagiku tak apa, mungkin nanti saat USG yang ke 6 bulan. Yang terpenting saat ini adalah bayiku sehat. Itu aja. Mungkin tidak banyak yang kukonsumsi. Asupan vitamin yang dianjurkan dokter tidak aku tebus. Karena ada teman yang mengatakan lebih baik makan banyak sayur, buah, dan susu saja. Serta sari kedelai ataupun beras merah. Aku lakukan semuanya. Aku minum susu dan banyak sekali makan sayur. Terutama saat aku berada di kontrakan. Memang sayur harganya lebih murah. Jadi lebih irit patungan dengan teman.
Akan kutanamkan dalam benak janinku bahwa kesederhanaan itu penting. Aku tak memasak ikan, daging, atau yang lainnya. Karena memang kondisi di kontrakan sangat sederhana. Belum lagi persiapanku keluar dari sekolahku di Sidoarjo ini untuk berpindah tinggal bersama suamiku di Lamongan. Ini sudah jalan pikiranku dan mungkin tidak sama dengan kedua saudaraku.
Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak bulan Februari kemarin. Aku mengajukan surat pengunduran diri dengan alasan mengikuti suami di Lamongan sekaligus persiapan persalinan. Semoga janinku tetap sehat selalu.
Selain aku persiapkan surat pengunduran diri dari sekolahku ini, aku persiapkan juga kepindahanku mengajar di tempat lain. Aku melamar di berbagai sekolah di Lamongan. Terutama sekolah-sekolah yang sama-sama IT, aku mulai mempersiapkan usahaku, mulai dari membeli mesin obras hingga rencanaku membeli mesin kaos dan bordir. Aku juga mendaftar di komunitas menulis FLP Lamongan. Aku ingin benar-benar terkondisikan di Lamongan. Aku tidak ingin hanya sebagai ibu RT saja.  Aku ingin benar-benar membantu suamiku dan menunjukkan ke anakku bahwa ibunya adalah ibunya yang plus-plus. Plus sekalius bisa mengasuh serta mendidik anak kelak tentunya.
Aku mendapat panggilan setelah aku melamar di Lamongan. Tanggal 13 April 2015 aku diminta untuk magang selama 1 pekan di sekolah yang akan aku singgahi kelak. Aku juga mendapat panggilan interview di sekolah tersebut kemarin Jumat, 22 Mei 2015. Ya tentu aku jawab sesuai dengan kredibilitas serta alasanku bekerja di sana. “Alasan keluarga”.
Insya Allah apa yang aku rencanakan ini akan berjalan dengan lancar. Aamiin
****
Semalam, saat aku tidur di Lamongan, dua kali aku merasakan kram yang amat sangat di bagian betis kanan kiriku. Rasanya sakit sekali. Memang sebelumnya aku kesana-kemari bersama suami tercintaku itu. Aku berkunjung ke rumah temannya, ke RSM, kemudian aku membantu ibu metua membersihkan dan merapikan rumah setelah ada bongkar pasang kamar di rumah beliau kemudian malamnya aku jalan-jalan di alun-alun Lamongan bersama suami, kakakku, kakak ipar, dan tentu keponakanku yang menggemaskan Yardan.
Ibu mertuaku itu sangat baik kepadaku. Memang dia adalah sosok ibu yang lembut, dan pengertian. Aku yang tak bisa masak pun juga dimakluminya. Aku yang hanya bisa cuci baju tapi kurang bersih juga dimakluminya, hingga pemisahan piring dan gelas saat cuci piring, mana yang harus didahulukan pun aku diajarinya.
Liku-liku bersama ibu mertua kujalani dengan senang hati. Layaknya saat aku training di tempat kerjaku untuk bisa beradaptasi dengan baik di tempat itu. Kadang banyak salahnya, kadang kritikan yang terlontar dari mulut ibuku itu. Aku anggap kritikan itu sebagai pembelajaran untukku. Ibuku itu bukan sebagai ibu mertuaku, namun aku anggap sebagai ibuku sendiri. Maklum memang aku sudah tak punya ibu sejak aku kelas 3 SMA. Hanya eyang uti sebagai pengganti ibuku. Namun, tentu eyang uti yang pertama. Dan aku sangat menyayangi eyang uti lebih dari diriku sendiri.
Hingga tadi pagi kawan, sebelum aku berangkat kembali ke Sidoarjo, pukul 4 pagi. Ibu menyiapkan teh hangat dan memberi bekal aku roti dan pisang. Namun ternyata ketinggalan di sepeda motor suamiku ketika aku diantar menunggu bus di Plaza Dapur Lamongan. :)


Tidak ada komentar: