Yuneni novikawati
172144043
Kebebasan“Dalang” dalam menggerakkan cerita
”Sampek Engtay” oleh N. Riantiarno
Bentuk cerita ini adalah seolah-olah hasil pengaturan dalang. Dalang bisa dikatakan juga sebagai tokoh utama. Karena dia yang menggerakkan waktu cerita kemana saja dia inginkan. Dalang mengatur kisah Engtay dan teman-temannya. Ketika meletakkan setting di sekolah. Pada saat menceritakan Engtay ketika Engtay berusaha untuk menutupi rahasianya karena Engtay adalah sosok laki-laki yang berperilaku seperti perempuan sejak kecil.
”para pemirsa, tahu’kan siapa biang keladi perkara ini? Tidak lain dan tidak bukan Engtay sendiri. Paham kan mengapa ia berbuat demikian? Engtay ingin rahasianya terbuka. Ya kan? Mana mungkin seorang perempuan sanggup kencing sambil berdiri tanpa berceceran? Kalau kawan-kawannya memergoki bagaimana cara Engtay kencing, bagaimana? Kan mereka bisa curiga? Jadi Engtay pun berpikir keras.....................”
(Rian 393 :1)
Dalang mengisahkan pula ketika Engtay mencari jalan keluar agar peraturan yang Engtay buat untuk menutupi rahasianya tetap terlaksana. Dan dengan begitu. Maka Engtay dan teman-teman lainnya adalah sama rasa sama jongkok, sama seperti apa yang sedang dialami Engtay sebagai sosok laki-laki yang berperangai wanita. Dan ketika kisah Engtay selesai. Tiba-tiba dengan cepat Dalang merubah kondisi dan setting di sekolah. Dan meloncat pada pasar malam.
”lalu diambilnya tinta bak dan disiramkannya ke tembok-tembok WC. Tuh, jadi kotor, kan ? Engtay berhasil. Cerdik-kiawan sekali anak itu. Selanjutnya ada apa ini? Adegan apa? Oo, ya adegan Pasar Malam!”(Rian 393:2)
Dan saat Dalang mengisahkan di Pasar Malam kisah romeo dan Yuliet. Seketika itu terasa aneh. Terjadi penyetopan!! Mengatur pembaca untuk menghentikan bacaannya. Untuk mengisahkan bahwa cerita Romeo dan Yuliet bukan kisah tragedi tapi diganti dengan Komedí. Apa maksud dari Dalang. Dengan seenaknya mengatur pembaca. Tidak membiarkan pembaca untuk meneruskan imajinya. Padahal ketika itu juga imajinasi pembaca seakan-akan sudah tersortir peda satu kefokusan. Tapi ternyata dalang?
“stop, tunggu dulu, jangan dilanjutkan dulu!(membaca) Hasil pengumpulan pendapat dari para penonton, malam ini tidak dibutuhkan lakon tragedi. Ternyata penonton, malam ini tidak dilakukan lakon tragedi. Ternyata penonton kita lebih suka comedí……”(Rian 394)
Dan saat itu Dalang juga tiba-tiba menceritakan pronocitro dan Roromendhut. Ada Adipati Wiraguna. Ini sebenarnya settingnya dimana. Saat Engtay ada di sekolah. Kemudian meloncat di Paris.. Kemudian Kisah Pewayangan. Apakah saat itu Dalang yang memiliki setting sendiri. Apakah memang dalang bisa di tempat mana saja. Ataukah saat itu Dalang ada di jaman modern. Kebebasan dalang terhadap penyampaian cerita membuat pembaca seakan tunduk dan patuh terhadap ceritanya. Tidak membenaskan pembaca untuk berimajinasi semakin jauh.
(1)”luar biasa. Sekarang giliran Roromendut dan Pronocitro!”( Rian 395)
(2)”Adipati Wiraguna”(pronocitro berperang melawan Adipati. Pronocitro kalah. Lalu Roromendhut pun bunuh diri)”( Rian 396:1 )
(3)”Rupanya, kisah cinta Pronocitro dan Roromendhut tak lebih dari perang nikotin. Maka...........”(Rian 396 :2)
Jumat, 12 Desember 2008
kajian Apresiasi prosa fiksi
Yuneni novikawati
072144043
FREEDOM IS RESPONSIBILITY ARTHUR
(FILM “KING ARTHUR”)
Dalam Eksistensi John Paul Sartre
Sinopsis
Arthur adalah penduduk asli Roma, keturunan ibu dari kalangan bangsa Woad. Arthur adalah putra Raja kebangsaan Roma. Dia menjadi pemimpin para ksatria dari Sarmatia yaitu Lancelot, Galahad, Bors, Dagonet, Jols, Tristan, Gawain untuk melindungi kawasan Roma dari jajahan. Kerajaannya dipimpin oleh Uscup Germanius. Pos peristirahatan mereka ada di Inggris. Separuh dari wilayah selatan ditengah tembok yang memisahkan suku asli Roma.
Selama 15 tahun mengabdi pada Roma dan saat ini kebebasan yang dinantikan itu segera datang untuk Arthur dan ksatrianya. Tapi banyak sekali kendala yang dicapai untuk memeroleh kebebasan itu. Uskup Germanius meskipun ia telah menjanjikan memberikan surat pembebasan itu, ia masih menginginkan misi yang harus dijalankan oleh Arthur dan ksatrianya. Arthur harus membebaskan keluarga Roma yang masih terjebak oleh Saxon. Keluarga Marius Honorius yang putranya bernama Alecto anak baptis dan murid kesayangan Paus. Arthurpun sebelumnya tak menyetujui karena misi berat itu diberikan saat mendekati pembebasan para ksatrianya. Selama mempertaruhkan nyawa 15 tahun misi ini tak pernah disinggung dan Arthur kecewa kepada Uscup Germanius. Karena ia dan ksatrianya akan mempertaruhkan nyawa demi menjalankan misi terakhir itu. Tapi usaha Uscup untuk meyakinkan bahwa anak Romawi yang meninggalkan Gereja jangan sampai jatuh di tangan Saxon. Arthurpun menyetujui dengan janji bahwa jika Uscup tidak memegang janjinya maka, legiun Romawi, Pasukan Gereja atau Tuhan tak kan bisa menolongnya. Dan misi itu disampaikan oleh Arthur kepada teman-temannya. Teman-teman ksatrianya begitu kecewa sama seperti Arthur. Dihari kebebasan mereka. Bukan pembebasan malah justru darah mereka. Perintah Roma ataukah perintah Arthur. Dengan didahului oleh Dagonet. Maka semua ksatria menyetujui. Meskipun dengan perasaan terpaksa tapi persahabatan mereka yang menjadikan mereka bersatu.
Kemudian berangkatlah mereka ke utara untuk menolong keluarga Roma terutama Alecto. Berbagai rintangan yang dihadapi sampai terjebak oleh bangsa Woad. Tapi bangsa Woad yang dipimpin oleh Merlin masih menginginkan para ksatria itu hidup, karena mereka merencanakan sesuatu yaitu mengalahkan bangsa Saxon dengan bersatu kepada Arthur dan ksatrianya.
Maka setelah Arthur dan ksatrianya sampai di kerajaan keluarga Marius Honorius. Disana Arthur menemukan kekejaman yang dilakukan oleh Marius. Bangsa Woad dijadikan budak dan terbunuh dalam lorong bawah tanah. Ditemukan dua orang yang masih hidup. Anak kecil dan gadis dari bangsa Woad. Kemudian mereka yang masih hidup, Istri Marius dan Alecto serta rakyatnya dibawa oleh Arthur kembali ke Roma.
Setelah sampai di perjalanan. Di tengah gunung es mereka dihadang oleh bangsa Saxon. Banyak sekali pasukannya hingga Dagones salah satu ksatrianya terbunuh karena menghancurkan es untuk menghancurkan pasukan Saxon. Saat itulah setelah kembali pada kekaisaran Roma, Uscup germanius dengan memberikan hadiah surat pembebasan sebagai janji setelah misi itu dilaksanakan. Tetapi itu tak berharga lagi. Bors merasa terpukul ketika pemberian surat kebebasan, surat keselamatan itu diberikan. Lancelot mengatakan bahwa surat pembebasan itu untuk Dagonet, tapi ia tak menginginkan semua itu karena Dagonet sudah bebas. Dagonet sudah mati.
Setelah bebas. Bangsa Saxon datang untuk menghancurkan dan menguasai Inggris. Terutama batasan tembok yang ditempati Arthur. Karena tahu bahwa pasukan Roma dan Ksatrianya telah pulang ke tanah airnya. Tetapi hal penghancuran yang direncanakan bangsa Saxon tak akan dibiarkan oleh Arthur. Arthur berjuang demi menyelamatkan bangsanya, wilayah kekuasaanya, dan kehancuran rakyatnya. Dan saat itulah makna pembebasan dirasakan oleh teman ksatrianya. Kuda yang ditunggangi para ksatria itu sama yang dirasakan bentuk persahabatan Arthur dan ksatrianya. Keterikatan persahabatan yang membentuk kekuatan yang menghadirkan mereka tetap bersatu. Bukan negara tanah kelahiran yang membuat mereka terpisah. Tetapi rasa persatuan para ksatria yang membuat mereka menghilangkan Ras demi kebebasan. Hanya sejarah yang bisa membuat mereka tetap abadi, yang membuat mereka bebas dengan sesuatu hal yang dipilihnya.
FREEDOM!!
1. Sikap Arthur
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
Dalam analisis karakter Arthur, arthur menginginkan sesuatu pembebasan dalam diri. Pembebasan yang sesuai dengan apa yang ada pada keinginannya.
Tapi keinginan Arthur bukan keinginan sifat egonya semata. Tapi keinginan bebasnya adalah karena rasa tanggungjawabnya kepada bangsanya, kepada rakyatnya. Arthur ingin bebas bersama bangsanya, dia ingin bebas bersama bangsa yang dicintainya.
Aku ingin hidup damai, Lancelot. Aku muak berperang. Roma adalah tempat yang indah. Teratur, berbudaya, dan maju.
Filsuf terpandai berkumpul ditempat yang suci
Untuk membebaskan manusia.
Keinginan Arthur untuk damai, kembali ke Roma adalah karena kemuakannya dan kebosanannya terhadap pertempuran.
Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). . http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
Arthur selain memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap bangsanya, dia juga menghargai hal-hal yang diajarkan oleh tanah kelahirannya. Dia diajarkan tentang kebebasan dan persamaan hak. Nilai ajaran Roma mempengaruhinya hingga kehidupan masa kini. Maka mengapa Sartre mengatakan bahwa manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmennya di masa lalu. Dan ini ditunjukkan Arthur dalam menuju impian-impiannya dulu saat kebebasan bangsa Roma direnggut. Dia ingin menghadirkan warna kebebasan yang dulu dengan mengembalikan kebebasan itu. Dan Ajaran saat di Roma itu membawanya hingga dia dewasa sekarang. Menjadi ksatria yang tidak hanya ksatria omong kosong. Tapi ksatria yang sungguh bertanggungjawab kepada rakyatnya.
Ajaran soal kehendak bebas dan persamaan hak mempengaruhiku
Aku tak sabar bertemu dengannya lagi di Roma.
Ketika saat-saat kebebasan itu akan hadir, ketidak inginan menyampaikan misi itu sangat kuat. Arthur tidak ingin memecahkan rasa bahagianya yang dirasakan para ksatrianya. Tapi karena tanggung jawab yang diberikan itulah yang membuatnya terdorong untuk menyampaikannya.
Para ksatria, saudara sepertempuran
Kita harus jalani misi terakhir bagi Roma sebelum dibebaskan
2. Kepercayaan Arthur
Keinginan bebas Arthur dilandaskan juga kepada kepercayannya. Arthur tak pernah menginginkan hal ini yang membuat kecewa para ksatrianya. Arthur tetap menginginka agar para ksatrianya meraih apa yang menjadi impian mereka selama belasan tahun mengabdi kepada bangsa Roma.
Ya Tuhan Yang Maha Pengampun
Aku memohon belas kasih-Mu
Bukan bagi diriku tapi bagi ksatriaku
Karena mereka kini membutuhkannya
Arthur menginginkan bahwa ksatrianya tetap dalam bimbingan Tuhannya. Arthur rela melakukan apa saja demi para ksatrianya. Arthur sanggup merelakan nyawanya demi para ksatrianya. Arthur rela membayar seribu kali lipat dengan pengorbanannya. Karena rasa sayangnya, rasa persahabatan yang tinggi untuk kebebasan ksatrianya.
Bimbing mereka dalam ujian mendatang
Aku akan membayar seribu kali lipat
Dengan pengorbanan apapun diriku
Dan jika dalam kebijaksanaan-Mu
Kuputuskan nyawaku harus kukorbankan demi mereka
Agar mereka bisa merasakan kembali kebebasan yang sudah lama direnggut
Dengan senang hati akan kuterima
3. Cinta Arthur
Rasa cinta pada ibunya yang sesungguhnya menjadikan sumber dari semangatnya. Semangat pembebasan. Arthur sangat mencintai ibunya. Dia rela untuk membebaskan ibunya. tapi ternyata kerelaan itu yang membawa Arthur kepada untuk bisa bersatu lagi pada bangsa Woad. Ambisi kebebasannya atas cinta pada ibunya membawa Arthur lebih kuat untuk menghadapi segala rintangan apapun.
Arthur: kau menyerang sebuah desa
Sampai kini aku masih merasakan api diwajahku
4. Semangat Arthur
Semangat Arthur untuk memperjuangkan kebebasan bangsanya saat peperangan menghadangnya. Memberikan keyakinan pada lancelot bahwa dirinya dan teman-temannya adalah seorang ksatria. Ksatria kuat dalam mengorbankan dirinya untuk keinginannya. Ksatria mampu menjadikan semua keinginan menjadi nyata. Dengan bersama-saama menghadapi rintangan itu maka kekuatan itu akan bertambah. Dan kekuatan itu menjadikan Arthur dan para ksatrianya bebas.
Lancelot, kita adalah ksatria
Bersamamu, kita disampingmu. Kita bisa melakukannya
Lancelot, kita adalah ksatria
Arthur menyadari bahwa semua hal yang dia lakukan dulu akan berimbas para pertaruhan nyawanya. Arthur siap menghadapinya karena Arthur tahu bahwa semua yang telah dilakukannya dulu selama belasan tahun akan berimbas pada dirinya juga. Pertaruhan nyawanya.
Sekarang aku tahu, bahwa darah, nyawa yang kurenggut akan membawaku kesini
Manusia harus memiliki komitmen dan tanggung jawab. Manusia adalah
bahkan bertanggung jawab atas nama kami, karena dia bahkan perasaan yang dibentuk oleh perbuatan
(Kaufmann, dalam Sartre 1956.295). Ini berarti tidak ada paksaan dia dari belakang atau bertingkah laku dalam suatu cara, atau pola yang tepat mendorong dia ke masa depan. Karena individu bebas untuk memilih jalan mereka sendiri, mereka harus menerima resiko dan tanggung jawab. Menurut Sartre, satu harus "membuat" Keberadaan sendiri. Dalam proses tersebut, manusia
harus memilih, tanpa bimbingan universal. http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
pernyataan sartre ada pada Semangat Arthur hadir dalam jiwa ksatrianya. Kini semangatnya bukan hanya semangat untuk bangsanya lagi tapi pada diri pribadinya sendiri. Arthur menyampaikan kepada ksatrianya bahwa kebebasan adalah hak para ksatrianya. kebebasan adalah pada setiap tindakan yang mereka lakukan hari itu. Dan hal ini membuat dia menyatakan bahwa biarkan pembebasannya hanya ada dalam sejarah karena kebebasan dalam memilih mewujudkannya. Kebebasan yang abadi.
Para ksatria, hadiah kebebasan berhak kalian dapatkan
Tapi tanah air yang kita cari bukanlah tempat yang jauh
Tempat itu ada pada diri kita, dan setiap tindakan kita hari ini
Jika itu takdir kita biarlah terjadi
Tapi biarkan sejarah ingat bahwa kita bebas memilih mewujudkannya
RUS!!
072144043
FREEDOM IS RESPONSIBILITY ARTHUR
(FILM “KING ARTHUR”)
Dalam Eksistensi John Paul Sartre
Sinopsis
Arthur adalah penduduk asli Roma, keturunan ibu dari kalangan bangsa Woad. Arthur adalah putra Raja kebangsaan Roma. Dia menjadi pemimpin para ksatria dari Sarmatia yaitu Lancelot, Galahad, Bors, Dagonet, Jols, Tristan, Gawain untuk melindungi kawasan Roma dari jajahan. Kerajaannya dipimpin oleh Uscup Germanius. Pos peristirahatan mereka ada di Inggris. Separuh dari wilayah selatan ditengah tembok yang memisahkan suku asli Roma.
Selama 15 tahun mengabdi pada Roma dan saat ini kebebasan yang dinantikan itu segera datang untuk Arthur dan ksatrianya. Tapi banyak sekali kendala yang dicapai untuk memeroleh kebebasan itu. Uskup Germanius meskipun ia telah menjanjikan memberikan surat pembebasan itu, ia masih menginginkan misi yang harus dijalankan oleh Arthur dan ksatrianya. Arthur harus membebaskan keluarga Roma yang masih terjebak oleh Saxon. Keluarga Marius Honorius yang putranya bernama Alecto anak baptis dan murid kesayangan Paus. Arthurpun sebelumnya tak menyetujui karena misi berat itu diberikan saat mendekati pembebasan para ksatrianya. Selama mempertaruhkan nyawa 15 tahun misi ini tak pernah disinggung dan Arthur kecewa kepada Uscup Germanius. Karena ia dan ksatrianya akan mempertaruhkan nyawa demi menjalankan misi terakhir itu. Tapi usaha Uscup untuk meyakinkan bahwa anak Romawi yang meninggalkan Gereja jangan sampai jatuh di tangan Saxon. Arthurpun menyetujui dengan janji bahwa jika Uscup tidak memegang janjinya maka, legiun Romawi, Pasukan Gereja atau Tuhan tak kan bisa menolongnya. Dan misi itu disampaikan oleh Arthur kepada teman-temannya. Teman-teman ksatrianya begitu kecewa sama seperti Arthur. Dihari kebebasan mereka. Bukan pembebasan malah justru darah mereka. Perintah Roma ataukah perintah Arthur. Dengan didahului oleh Dagonet. Maka semua ksatria menyetujui. Meskipun dengan perasaan terpaksa tapi persahabatan mereka yang menjadikan mereka bersatu.
Kemudian berangkatlah mereka ke utara untuk menolong keluarga Roma terutama Alecto. Berbagai rintangan yang dihadapi sampai terjebak oleh bangsa Woad. Tapi bangsa Woad yang dipimpin oleh Merlin masih menginginkan para ksatria itu hidup, karena mereka merencanakan sesuatu yaitu mengalahkan bangsa Saxon dengan bersatu kepada Arthur dan ksatrianya.
Maka setelah Arthur dan ksatrianya sampai di kerajaan keluarga Marius Honorius. Disana Arthur menemukan kekejaman yang dilakukan oleh Marius. Bangsa Woad dijadikan budak dan terbunuh dalam lorong bawah tanah. Ditemukan dua orang yang masih hidup. Anak kecil dan gadis dari bangsa Woad. Kemudian mereka yang masih hidup, Istri Marius dan Alecto serta rakyatnya dibawa oleh Arthur kembali ke Roma.
Setelah sampai di perjalanan. Di tengah gunung es mereka dihadang oleh bangsa Saxon. Banyak sekali pasukannya hingga Dagones salah satu ksatrianya terbunuh karena menghancurkan es untuk menghancurkan pasukan Saxon. Saat itulah setelah kembali pada kekaisaran Roma, Uscup germanius dengan memberikan hadiah surat pembebasan sebagai janji setelah misi itu dilaksanakan. Tetapi itu tak berharga lagi. Bors merasa terpukul ketika pemberian surat kebebasan, surat keselamatan itu diberikan. Lancelot mengatakan bahwa surat pembebasan itu untuk Dagonet, tapi ia tak menginginkan semua itu karena Dagonet sudah bebas. Dagonet sudah mati.
Setelah bebas. Bangsa Saxon datang untuk menghancurkan dan menguasai Inggris. Terutama batasan tembok yang ditempati Arthur. Karena tahu bahwa pasukan Roma dan Ksatrianya telah pulang ke tanah airnya. Tetapi hal penghancuran yang direncanakan bangsa Saxon tak akan dibiarkan oleh Arthur. Arthur berjuang demi menyelamatkan bangsanya, wilayah kekuasaanya, dan kehancuran rakyatnya. Dan saat itulah makna pembebasan dirasakan oleh teman ksatrianya. Kuda yang ditunggangi para ksatria itu sama yang dirasakan bentuk persahabatan Arthur dan ksatrianya. Keterikatan persahabatan yang membentuk kekuatan yang menghadirkan mereka tetap bersatu. Bukan negara tanah kelahiran yang membuat mereka terpisah. Tetapi rasa persatuan para ksatria yang membuat mereka menghilangkan Ras demi kebebasan. Hanya sejarah yang bisa membuat mereka tetap abadi, yang membuat mereka bebas dengan sesuatu hal yang dipilihnya.
FREEDOM!!
1. Sikap Arthur
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
Dalam analisis karakter Arthur, arthur menginginkan sesuatu pembebasan dalam diri. Pembebasan yang sesuai dengan apa yang ada pada keinginannya.
Tapi keinginan Arthur bukan keinginan sifat egonya semata. Tapi keinginan bebasnya adalah karena rasa tanggungjawabnya kepada bangsanya, kepada rakyatnya. Arthur ingin bebas bersama bangsanya, dia ingin bebas bersama bangsa yang dicintainya.
Aku ingin hidup damai, Lancelot. Aku muak berperang. Roma adalah tempat yang indah. Teratur, berbudaya, dan maju.
Filsuf terpandai berkumpul ditempat yang suci
Untuk membebaskan manusia.
Keinginan Arthur untuk damai, kembali ke Roma adalah karena kemuakannya dan kebosanannya terhadap pertempuran.
Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). . http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
Arthur selain memiliki rasa kecintaan yang tinggi terhadap bangsanya, dia juga menghargai hal-hal yang diajarkan oleh tanah kelahirannya. Dia diajarkan tentang kebebasan dan persamaan hak. Nilai ajaran Roma mempengaruhinya hingga kehidupan masa kini. Maka mengapa Sartre mengatakan bahwa manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmennya di masa lalu. Dan ini ditunjukkan Arthur dalam menuju impian-impiannya dulu saat kebebasan bangsa Roma direnggut. Dia ingin menghadirkan warna kebebasan yang dulu dengan mengembalikan kebebasan itu. Dan Ajaran saat di Roma itu membawanya hingga dia dewasa sekarang. Menjadi ksatria yang tidak hanya ksatria omong kosong. Tapi ksatria yang sungguh bertanggungjawab kepada rakyatnya.
Ajaran soal kehendak bebas dan persamaan hak mempengaruhiku
Aku tak sabar bertemu dengannya lagi di Roma.
Ketika saat-saat kebebasan itu akan hadir, ketidak inginan menyampaikan misi itu sangat kuat. Arthur tidak ingin memecahkan rasa bahagianya yang dirasakan para ksatrianya. Tapi karena tanggung jawab yang diberikan itulah yang membuatnya terdorong untuk menyampaikannya.
Para ksatria, saudara sepertempuran
Kita harus jalani misi terakhir bagi Roma sebelum dibebaskan
2. Kepercayaan Arthur
Keinginan bebas Arthur dilandaskan juga kepada kepercayannya. Arthur tak pernah menginginkan hal ini yang membuat kecewa para ksatrianya. Arthur tetap menginginka agar para ksatrianya meraih apa yang menjadi impian mereka selama belasan tahun mengabdi kepada bangsa Roma.
Ya Tuhan Yang Maha Pengampun
Aku memohon belas kasih-Mu
Bukan bagi diriku tapi bagi ksatriaku
Karena mereka kini membutuhkannya
Arthur menginginkan bahwa ksatrianya tetap dalam bimbingan Tuhannya. Arthur rela melakukan apa saja demi para ksatrianya. Arthur sanggup merelakan nyawanya demi para ksatrianya. Arthur rela membayar seribu kali lipat dengan pengorbanannya. Karena rasa sayangnya, rasa persahabatan yang tinggi untuk kebebasan ksatrianya.
Bimbing mereka dalam ujian mendatang
Aku akan membayar seribu kali lipat
Dengan pengorbanan apapun diriku
Dan jika dalam kebijaksanaan-Mu
Kuputuskan nyawaku harus kukorbankan demi mereka
Agar mereka bisa merasakan kembali kebebasan yang sudah lama direnggut
Dengan senang hati akan kuterima
3. Cinta Arthur
Rasa cinta pada ibunya yang sesungguhnya menjadikan sumber dari semangatnya. Semangat pembebasan. Arthur sangat mencintai ibunya. Dia rela untuk membebaskan ibunya. tapi ternyata kerelaan itu yang membawa Arthur kepada untuk bisa bersatu lagi pada bangsa Woad. Ambisi kebebasannya atas cinta pada ibunya membawa Arthur lebih kuat untuk menghadapi segala rintangan apapun.
Arthur: kau menyerang sebuah desa
Sampai kini aku masih merasakan api diwajahku
4. Semangat Arthur
Semangat Arthur untuk memperjuangkan kebebasan bangsanya saat peperangan menghadangnya. Memberikan keyakinan pada lancelot bahwa dirinya dan teman-temannya adalah seorang ksatria. Ksatria kuat dalam mengorbankan dirinya untuk keinginannya. Ksatria mampu menjadikan semua keinginan menjadi nyata. Dengan bersama-saama menghadapi rintangan itu maka kekuatan itu akan bertambah. Dan kekuatan itu menjadikan Arthur dan para ksatrianya bebas.
Lancelot, kita adalah ksatria
Bersamamu, kita disampingmu. Kita bisa melakukannya
Lancelot, kita adalah ksatria
Arthur menyadari bahwa semua hal yang dia lakukan dulu akan berimbas para pertaruhan nyawanya. Arthur siap menghadapinya karena Arthur tahu bahwa semua yang telah dilakukannya dulu selama belasan tahun akan berimbas pada dirinya juga. Pertaruhan nyawanya.
Sekarang aku tahu, bahwa darah, nyawa yang kurenggut akan membawaku kesini
Manusia harus memiliki komitmen dan tanggung jawab. Manusia adalah
bahkan bertanggung jawab atas nama kami, karena dia bahkan perasaan yang dibentuk oleh perbuatan
(Kaufmann, dalam Sartre 1956.295). Ini berarti tidak ada paksaan dia dari belakang atau bertingkah laku dalam suatu cara, atau pola yang tepat mendorong dia ke masa depan. Karena individu bebas untuk memilih jalan mereka sendiri, mereka harus menerima resiko dan tanggung jawab. Menurut Sartre, satu harus "membuat" Keberadaan sendiri. Dalam proses tersebut, manusia
harus memilih, tanpa bimbingan universal. http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre
pernyataan sartre ada pada Semangat Arthur hadir dalam jiwa ksatrianya. Kini semangatnya bukan hanya semangat untuk bangsanya lagi tapi pada diri pribadinya sendiri. Arthur menyampaikan kepada ksatrianya bahwa kebebasan adalah hak para ksatrianya. kebebasan adalah pada setiap tindakan yang mereka lakukan hari itu. Dan hal ini membuat dia menyatakan bahwa biarkan pembebasannya hanya ada dalam sejarah karena kebebasan dalam memilih mewujudkannya. Kebebasan yang abadi.
Para ksatria, hadiah kebebasan berhak kalian dapatkan
Tapi tanah air yang kita cari bukanlah tempat yang jauh
Tempat itu ada pada diri kita, dan setiap tindakan kita hari ini
Jika itu takdir kita biarlah terjadi
Tapi biarkan sejarah ingat bahwa kita bebas memilih mewujudkannya
RUS!!
semiotika dalam film "king arthur"
Hubungan Simbol ”RUS” dengan nyanyian kebebasan Vanora
dalam film ’King Arthur’
Negeri beruang dan Elang berada
Negeri yang memanggil kita untuk kembali
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
Kami akan pulang
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Dengarlah nyanyian kami
Dengarlah kerinduan kami
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
”RUS”
Rus adalah makna pembebasan yang diinginkan Arthur dan para ksatrianya. PEMBEBASAN itulah makna sesungguhnya. Kebebasan dalam diri masing-masing tanpa tekanan, tanpa perintah, bebas kembali ketanah air tempat mereka dilahirkan. Saat kata ’RUS’ dikatakan oleh para ksatrianya seakan-akan kata itu menjadi penjelma dewa penyemangat yang hadir membentuk kekuatan diri untuk melakukan peperangan.
Bebas, keinginan bebas itulah yang senantiasa mengobarkan semangat pada diri ksatria. Dan akhirnya kata RUS dipakai untuk pembebasan tanpa perbedaan Ras tapi keabadian persahabatan. Mempertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kebebasan itu yang menjadikan namanya akan tetap ada, dikenang.
’Lirik lagu pada dasarnya merupakan teks. Teks yang dilantunkan berdasarkan irama, sehingga menjelma sebagai teks yang mempunyai keluwesan nada yang dilisankan.’(heru, membongkar lelaki buaya darat:2007).
Nyanyian oleh Vanora ini salah satu dari keluwesan nada. Dan keluwesan nada diperoleh dari perasaan dan pikiran. Pikiran Vanora dan perasaannya saat itu adalah bahagia karena vanora sendiri ikut merasakan kebebasan itu yang dirasakan para ksatria. Kebebasan untuk kembali ketanah air Sarmatia.hal ini diungkapkan pada bait lirik
’Negeri beruang dan Elang berada
Negeri yang memanggil kita untuk kembali
Kami akan pulang melintasi pegunungan’
Kebahagiaan Vanora bahwa semua akan pulang ke negeri. Tempat keberadaan Beruang dan Elang. Negeri yang memanggilnya untuk kembali pulang dengan membawa kebebasan, kebebasan untuk negerinya, bangsanya dan rakyatnya dengan melintasi pegunungan. Yaitu untuk mencapai kebebasan itu diperlukan berbagai rintangan. Untuk mencapai kemenangan berbagai pertempuran yang dihadapi. Tak bisa tidak bahwa seseorang itu untuk mencapai keberhasilan tidaknya menghadapi ujian itu. Hal ini dicontohkan pada Arthur dan Ksatrianya. Arthur dan ksatrianya untuk menjadikan mereka bebas adalah karena usaha mereka sendiri untuk menghadapi rintangan itu sendiri.
Kemudian hal ini juga mempertegas bahwa mereka akan pulang ke tanah air. Mereka akan pulang, kembali ketanah air. Kebahagiaan Vanora menjadi pengungkap suara para ksatria yang mempertaruhkan nyawa demi pembebasan.
Kami akan pulang
Kami akan pulang
Melintasi pegunungan. Melintasi rintangan. Tiga kata untuk mengungkapkan kebahagiaan dan kebahagiaan yang hadir dalam jiwa para ksatria. Kami akan pulang membawa sesuatu untuk keluarga, untuk bangsa kita, untuk rakyat kita.
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Tapi dengan melintasi pegununganlah yang bisa mencapai kebebasan itu. Dengan melintasi rintangan itu sesuatu dinilai lebih berharga.
Dengarlah nyanyian kami
Dengarlah kerinduan kami
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
Penikmat digiring sedemikian rupa ke dalam kekuatan makna yang dibangun, sehingga penafsiran tunggal pun terbentuk. Tanpa memberikan penafsiran lebih jauh, penikmat secara tidak sadar menganggap dan bahkan terlibat dalam penstabilan teks tersebut, sehingga eksistensi kebenaran yang lain (the other) tenggelam.(heru:2007)saat Vonora menyanyikan hal ini, seolah-olah banyak yang terpana. Banyak yang tersentuh karena nyanyian itu begitu berarti, begitu bermakna. Makna pada lirik diatas bahwa Vonora meminta kepada negerinya, kepada bangsanya untuk memberikan pintu kebebasannya untuk para ksatrianya. Untuk Rakyat yang masih terjebak dalam keterikatan perintah.
Bila penafsiran sudah dinyatakan stabil, hal itu justru perlu dipertanyakan. Menurut Derrida, teks menyimpan ambiguitas-ambiguitas yang tidak bisa dielakkan. (heru,2007). Teks menyimpan ambiguitasnya. Yaitu yang tersirat dalam makna teks itu. Teks memang menyimpan ambiguitas. Ambiguitas yang bisa membedakan makna asli yang memengaruhi penikmat sehingga seakan-akan para para penikmat terhipnutis. TQ Sarannya adalah s
dalam film ’King Arthur’
Negeri beruang dan Elang berada
Negeri yang memanggil kita untuk kembali
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
Kami akan pulang
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Dengarlah nyanyian kami
Dengarlah kerinduan kami
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
”RUS”
Rus adalah makna pembebasan yang diinginkan Arthur dan para ksatrianya. PEMBEBASAN itulah makna sesungguhnya. Kebebasan dalam diri masing-masing tanpa tekanan, tanpa perintah, bebas kembali ketanah air tempat mereka dilahirkan. Saat kata ’RUS’ dikatakan oleh para ksatrianya seakan-akan kata itu menjadi penjelma dewa penyemangat yang hadir membentuk kekuatan diri untuk melakukan peperangan.
Bebas, keinginan bebas itulah yang senantiasa mengobarkan semangat pada diri ksatria. Dan akhirnya kata RUS dipakai untuk pembebasan tanpa perbedaan Ras tapi keabadian persahabatan. Mempertaruhkan nyawa demi kebebasan dan kebebasan itu yang menjadikan namanya akan tetap ada, dikenang.
’Lirik lagu pada dasarnya merupakan teks. Teks yang dilantunkan berdasarkan irama, sehingga menjelma sebagai teks yang mempunyai keluwesan nada yang dilisankan.’(heru, membongkar lelaki buaya darat:2007).
Nyanyian oleh Vanora ini salah satu dari keluwesan nada. Dan keluwesan nada diperoleh dari perasaan dan pikiran. Pikiran Vanora dan perasaannya saat itu adalah bahagia karena vanora sendiri ikut merasakan kebebasan itu yang dirasakan para ksatria. Kebebasan untuk kembali ketanah air Sarmatia.hal ini diungkapkan pada bait lirik
’Negeri beruang dan Elang berada
Negeri yang memanggil kita untuk kembali
Kami akan pulang melintasi pegunungan’
Kebahagiaan Vanora bahwa semua akan pulang ke negeri. Tempat keberadaan Beruang dan Elang. Negeri yang memanggilnya untuk kembali pulang dengan membawa kebebasan, kebebasan untuk negerinya, bangsanya dan rakyatnya dengan melintasi pegunungan. Yaitu untuk mencapai kebebasan itu diperlukan berbagai rintangan. Untuk mencapai kemenangan berbagai pertempuran yang dihadapi. Tak bisa tidak bahwa seseorang itu untuk mencapai keberhasilan tidaknya menghadapi ujian itu. Hal ini dicontohkan pada Arthur dan Ksatrianya. Arthur dan ksatrianya untuk menjadikan mereka bebas adalah karena usaha mereka sendiri untuk menghadapi rintangan itu sendiri.
Kemudian hal ini juga mempertegas bahwa mereka akan pulang ke tanah air. Mereka akan pulang, kembali ketanah air. Kebahagiaan Vanora menjadi pengungkap suara para ksatria yang mempertaruhkan nyawa demi pembebasan.
Kami akan pulang
Kami akan pulang
Melintasi pegunungan. Melintasi rintangan. Tiga kata untuk mengungkapkan kebahagiaan dan kebahagiaan yang hadir dalam jiwa para ksatria. Kami akan pulang membawa sesuatu untuk keluarga, untuk bangsa kita, untuk rakyat kita.
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Tapi dengan melintasi pegununganlah yang bisa mencapai kebebasan itu. Dengan melintasi rintangan itu sesuatu dinilai lebih berharga.
Dengarlah nyanyian kami
Dengarlah kerinduan kami
Kami akan pulang melintasi pegunungan
Kami akan pulang
Penikmat digiring sedemikian rupa ke dalam kekuatan makna yang dibangun, sehingga penafsiran tunggal pun terbentuk. Tanpa memberikan penafsiran lebih jauh, penikmat secara tidak sadar menganggap dan bahkan terlibat dalam penstabilan teks tersebut, sehingga eksistensi kebenaran yang lain (the other) tenggelam.(heru:2007)saat Vonora menyanyikan hal ini, seolah-olah banyak yang terpana. Banyak yang tersentuh karena nyanyian itu begitu berarti, begitu bermakna. Makna pada lirik diatas bahwa Vonora meminta kepada negerinya, kepada bangsanya untuk memberikan pintu kebebasannya untuk para ksatrianya. Untuk Rakyat yang masih terjebak dalam keterikatan perintah.
Bila penafsiran sudah dinyatakan stabil, hal itu justru perlu dipertanyakan. Menurut Derrida, teks menyimpan ambiguitas-ambiguitas yang tidak bisa dielakkan. (heru,2007). Teks menyimpan ambiguitasnya. Yaitu yang tersirat dalam makna teks itu. Teks memang menyimpan ambiguitas. Ambiguitas yang bisa membedakan makna asli yang memengaruhi penikmat sehingga seakan-akan para para penikmat terhipnutis. TQ Sarannya adalah s
menggugat tindakan penguasa
Yuneni Novikawati
072144043/ UTS
NILAI MORAL Thomas Hobbes dalam
MENGGUGAT TINDAKAN PENGUASA
Dalam Cerpen “Ulat Dalam Sepatu” (Gus Tf sakai)
Sinopsis:
Khairul Safar adalah seorang seniman. Katakanlah ia seorang seniman ukir, beberapa waktu sebelum ia mendapat undangan pameran. Dia sering datang ke kantor Gubernur untuk menyerahkan surat kepada atasan (Pak Sek). Tapi dia selalu tidak mendapat respon karena perempuan yang menjabat staf Pak Sek selalu mengatakan bahwa atasannya sibuk, tidak bisa diganggu. Saat itu perempuan itu menjanjikan bahwa pada hari sabtu bisa bertemu dengan atasannya. Ketika ada undangan dari pusat pameran di Jakarta terhadap ukiran kedainya , dia sudah agak malas bertemu dengan perempuan itu dan meminta persetujuan kepada atasannya berkaitan meminta tembusan keberangkatan ke Jakarta. Tapi karena bujukan dari pak Hasril (wartawan koran terbitan lokal) dan orang –orang disekitar wilayahnya, akhirnya dengan niat dia datang ke kantor Gubernur itu untuk meminta persetujuan. Masih seperti seminggu sebelumnya, perempuan itu masih bersikap dengan acuh dan sok sibuk dengan menyuruh Khairul kembali lagi seminggu lagi. Tepatnya senin depan. Akhirnya Khairul merasa kecewa. Karena tuntutannya hanya untuk meminta persetujuan saja tidak dikabulkan. Atasan hanya sibuk kesana kemari, perempuan itu juga selalu mengiyakan apa yang dikatakan atasannya. Diapun berlagak sibuk. Sibuk untuk atasannya. Khairul dari awal memandang sepatu butut di sudut lemari dan meja masih tergeletak. Padahal seharusnya sudah hilang. Kemudian saat Khairul mencoba untuk mengambil sepatu itu ternyata sepatu itu lengket seakan-akan lama disitu tak pernah ada yang menyadarinya. Diambilnya sepatu itu ternyata didalamnya banyak sekali ulatnya. Sampai ia putus asa terhadap sikap atasan dan perempuan itu terhadapnya, ia merasa bahwa seakan-akan pula sepatu itu bukan disudut melainkan berpindah di tengah, dan ulatnya mulai menjalar ke tembok-tembok bahkan ke jendela, kepintu hingga tak terlihat perbedaannya. Sampai akhirnya dia tidak sedikitpun ada minat untuk kembali ke kantor itu lagi. Suatu saat Khairul naik bis melewati kantor itu, dia malah melihat tembok pada kantor itu berubah catnya. Bukan berganti cat, tapi ulatnya sudah menjalar memenuhi gedung itu.
Data: Melihat dari sosok pejabat ( Pak Sek )
Khairul mengharap bahwa suratnya dapat diterima dalam waktu yang cepat sehingga ia akan melanjutkan urusan suratnya kepada yang lain. Tapi kelihatannya atasan perempuan itu belum ada waktu terhadap surat Khairul karena keperluannya terhadap urusan lain. Timbul beberapa pertanyaan pada Khairul, ada apa dengan Pak Sek. Kenapa hanya menyetujui suratnya saja sampai harus menunggu lima hari?
”................., adakah perempuan itu benar-benar telah menyampaikan surat saya kepada atasannya? Tidakkah ia hanya pura-pura saja, kemudian membiarkan saya menunggu, agar ia merasa penting? Atau, surat itu mungkin telah diserahkannya. Atasannyalah yang belum ada waktu. Demikian sibukkah pejabat yang harus saya temui? Begitu banyakkah pekerjaannya sehingga masih harus menunggu? Sudah lima hari. Kalau benar pejabat itu begitu sibuknya, sungguh kasihan”
(Gus Tf 4:3)
Khairul merasa bosan karena sudah sekitar lima hari di kantor Gubernur tak pernah ada jawaban. Pada saat disana ia merasa tak ada gunanya. Hanya menunggu saja. Bahkan tak pernah terbesit pada hati Atasan perempuan bahwa ada seseorang yang menunggunya lama sekali hingga mondar mandir menghabiskan waktu selama lima hari. Sehingga Khairul merasa sia-sia saja jika kesana. Hanya untuk menerima undangan dari pameran itu yang dia anggap penting.
”sebetulnya saya tak yakin apakah saya memang perlu melakukan ini: datang ke kantor Gubernur. Semuanya bukan keinginan saya dan saya ragu apakah pameran itu ada gunanya. Tapi dasar nasib, pak pos......”(Gus Tf 4:7)
Ada harapan yang lebih, saat dijanjikan oleh perempuan itu bahwa pada saat itu atasannya (Pak Sek) bisa menemuinya. Dan menyetujui undangan dari Jakarta yang dia bawa. Dengan kesopanan dan gaya ramah dia lakukan ketika dia menghilangkan rasa bosannya dahulu. Mengharap keinginannya akan dikabulkan. Tapi masih sia-sia. Kekecewaannya bertambah saat perempuan itu mengatakan begini
”.................saya tersenyum, mengangguk, mengucap selamat pagi tapi rupanya ia terburu-buru, seraya melangkah ke ruangan atasannya, ia berkata ”senin depan saja bapak kemari. Pak Sek hari ini harus ke Jakarta dan seminggu lagi baru kembali”(Gus Tf 5:7)
Ketika saya (Khairul) merasa kecewa, curiga, bahkan berburuk sangka terhadap keadaan yang tidak seperti yang diinginkan, atasan yang ingin ditemui sibuk. Pergi ke Denpasar, ke Jakarta. Dengan mudah kesana kemari. Tak pernah menghiraukan sedikitpun ada seseorang yang membutuhkannya. Menunggu untuk sepuluh hari sangatlah lama dan ini membutuhkan kesabaran penuh. Jika dipikir, Khairul seharusnya marah dan menghujat saja atasan itu. Hanya untuk menyetujui suratny saja tak ada waktu. Padahal untuk menyetujui, menandatangani tak pernah membutuhkan waktu yang lama. Tapi keheranan itu masih menyelimuti hati Khairul.
”dengan tetap terbengong-bengong, saya sampai ke meja perempuan staf pejabat itu. Mungkin tak sepenuhnya saya mendengar ketika ia berkata ”maaf Pak, Pak Sek sebentar lagi harus ke Denpasar dan kembali ke Jakarta. Kira-kira dua minggu atau sepuluh hari lagilah kemari”(Gus Tf 6:9)
Kepentingan pejabat menjadikan segala urusan lain tidak penting, di nomerduakan!! Padahal urusan itu untuk Khairul adalah segalanya. Ini adalah ironi bagi para pejabat yang mengakui dirinya ”sok sibuk” dan selalu menyibukkan dirinya.
”Bapak ini bagaimana?! Sudah saya katakan Pak Sek harus berangkat. Urusan penting!”(Gus Tf 6:10)
Seperti inilah khairul menyadari bahwa memang pejabat memandang kecil seseorang yang tidak punya jabatan. Manusia biasa seperti saya yang tak punya wewenang sedikitpun untuk menggugat kesibukan petinggi itu. Yang bebas melakukan apa saja yang penguasa inginkan. Khairul malu terhadap kesibukan dirinya. Terlalu menginginkan sesuatu yang tak pernah tercapai. Tak pernah sedikitpun digubris. Sikap acuh Pejabat itu membuat Khairul Jera. Setidaknya yang ada dibenaknya adalah Pejabat yang adil, tidak semena-mena kepada rakyatnya.
”ya,ya....”saya tergagap dan merasa malu ketika menyadari bahwa urusan pejabat itu tentu lebih penting dari sekedar undangan pameran saya..”(Gus Tf 6:11)
Pimpinan (pejabat) yang biasanya mendapat sanjungan dari rakyat kini telah pudar. Harapan-harapan mereka kian hilang. Dimana rasa kepedulian mereka yang konon katanya sebagai pengayom masyarakat!!!.
Mengingat:
Negara adalah rimba politik. Stabilitas politik negara dan karier politik penguasa hanya tergantung pada berbagai teknik yang mereka kembangkan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Thomas Hobbes (1558-1679) menambahkan perlunya suatu sistem hukum yang efektif di tangan penguasa mutlak untuk menegakkan ketertiban sosial. Rasa takut perlu dilestarikan.
(dalam ”Kuasa dan Moral”: Franz Magnis-Suseno)
Membangun masyarakat yang manusiawi.
Suatu pembangunan hanya dapat mempertahankan mutu manusiawinya apabila dilandasi oleh sikap hormat terhadap manusia. Hormat tehadap manusia berarti mengakui kedudukan yang sama, tidak memperlakukan secara objektif perencanaan. Berorientasi pada harapan-harapannya. Tidak pernah mengorbankan pihak yang satu demi keuntungan pihak yang lain, tidak membeli kemajuan dengan menyengsarakan orang lain.
Pengungkapan ini terlihat dari data diatas bahwa tidak adanya rasa kemanusiaan dari Pejabat terhadap rakyat. Khairul membutuhkan Pejabat itu untuk memberikan tembusan kepadanya untuk menghadiri undangan pameran ke Jakarta, tapi Pejabat itu tak menghiraukan. Lebih penting ia terhadap kesibukannya. Padahal salah satu pemimpin sebagai pamong rakyat adalah memiliki rasa hormat, peduli, menghargai kepada rakyat. Kepada sesama manusia. Hal ini juga berkaitan dengan teori Karl Marx (adalah Marx yang muda yang berusaha untuk mengembalikan hubungan antar manusia pada hubungan manusia dengan alam dan pekerjaan.
(Franz Von Magnis)
KESIMPULAN:
Cerpen ”ulat dalam sepatu” adalah bentuk penggugatan masyarakat terhadap para ”penguasa”. Hal ini kita tempatkan pada masa Orde baru yang pada saat itu merajalelanya korupsi dan tindak kesewenangan Pejabat terhadap rakyat. Cerpen ini dapat memberikan wacana bahwa tidak seharusnya para petinggi yang memangku Jabatan lebih, memiliki sikap seperti itu. Adakah harus memerdulikan rakyat yang membutuhkannya. Dengan semakin bagusnya sikap kepemimpinan dan bertanggungJawab terhadap kepemimpinannya. Maka tidak mungkin sebuah negara atau wilayah dapat bergerak, berjalan sesuai keinginan masyarakat. Rasa nyaman dan aman atas sikap timbal balik pejabat terhadap rakyat.
072144043/ UTS
NILAI MORAL Thomas Hobbes dalam
MENGGUGAT TINDAKAN PENGUASA
Dalam Cerpen “Ulat Dalam Sepatu” (Gus Tf sakai)
Sinopsis:
Khairul Safar adalah seorang seniman. Katakanlah ia seorang seniman ukir, beberapa waktu sebelum ia mendapat undangan pameran. Dia sering datang ke kantor Gubernur untuk menyerahkan surat kepada atasan (Pak Sek). Tapi dia selalu tidak mendapat respon karena perempuan yang menjabat staf Pak Sek selalu mengatakan bahwa atasannya sibuk, tidak bisa diganggu. Saat itu perempuan itu menjanjikan bahwa pada hari sabtu bisa bertemu dengan atasannya. Ketika ada undangan dari pusat pameran di Jakarta terhadap ukiran kedainya , dia sudah agak malas bertemu dengan perempuan itu dan meminta persetujuan kepada atasannya berkaitan meminta tembusan keberangkatan ke Jakarta. Tapi karena bujukan dari pak Hasril (wartawan koran terbitan lokal) dan orang –orang disekitar wilayahnya, akhirnya dengan niat dia datang ke kantor Gubernur itu untuk meminta persetujuan. Masih seperti seminggu sebelumnya, perempuan itu masih bersikap dengan acuh dan sok sibuk dengan menyuruh Khairul kembali lagi seminggu lagi. Tepatnya senin depan. Akhirnya Khairul merasa kecewa. Karena tuntutannya hanya untuk meminta persetujuan saja tidak dikabulkan. Atasan hanya sibuk kesana kemari, perempuan itu juga selalu mengiyakan apa yang dikatakan atasannya. Diapun berlagak sibuk. Sibuk untuk atasannya. Khairul dari awal memandang sepatu butut di sudut lemari dan meja masih tergeletak. Padahal seharusnya sudah hilang. Kemudian saat Khairul mencoba untuk mengambil sepatu itu ternyata sepatu itu lengket seakan-akan lama disitu tak pernah ada yang menyadarinya. Diambilnya sepatu itu ternyata didalamnya banyak sekali ulatnya. Sampai ia putus asa terhadap sikap atasan dan perempuan itu terhadapnya, ia merasa bahwa seakan-akan pula sepatu itu bukan disudut melainkan berpindah di tengah, dan ulatnya mulai menjalar ke tembok-tembok bahkan ke jendela, kepintu hingga tak terlihat perbedaannya. Sampai akhirnya dia tidak sedikitpun ada minat untuk kembali ke kantor itu lagi. Suatu saat Khairul naik bis melewati kantor itu, dia malah melihat tembok pada kantor itu berubah catnya. Bukan berganti cat, tapi ulatnya sudah menjalar memenuhi gedung itu.
Data: Melihat dari sosok pejabat ( Pak Sek )
Khairul mengharap bahwa suratnya dapat diterima dalam waktu yang cepat sehingga ia akan melanjutkan urusan suratnya kepada yang lain. Tapi kelihatannya atasan perempuan itu belum ada waktu terhadap surat Khairul karena keperluannya terhadap urusan lain. Timbul beberapa pertanyaan pada Khairul, ada apa dengan Pak Sek. Kenapa hanya menyetujui suratnya saja sampai harus menunggu lima hari?
”................., adakah perempuan itu benar-benar telah menyampaikan surat saya kepada atasannya? Tidakkah ia hanya pura-pura saja, kemudian membiarkan saya menunggu, agar ia merasa penting? Atau, surat itu mungkin telah diserahkannya. Atasannyalah yang belum ada waktu. Demikian sibukkah pejabat yang harus saya temui? Begitu banyakkah pekerjaannya sehingga masih harus menunggu? Sudah lima hari. Kalau benar pejabat itu begitu sibuknya, sungguh kasihan”
(Gus Tf 4:3)
Khairul merasa bosan karena sudah sekitar lima hari di kantor Gubernur tak pernah ada jawaban. Pada saat disana ia merasa tak ada gunanya. Hanya menunggu saja. Bahkan tak pernah terbesit pada hati Atasan perempuan bahwa ada seseorang yang menunggunya lama sekali hingga mondar mandir menghabiskan waktu selama lima hari. Sehingga Khairul merasa sia-sia saja jika kesana. Hanya untuk menerima undangan dari pameran itu yang dia anggap penting.
”sebetulnya saya tak yakin apakah saya memang perlu melakukan ini: datang ke kantor Gubernur. Semuanya bukan keinginan saya dan saya ragu apakah pameran itu ada gunanya. Tapi dasar nasib, pak pos......”(Gus Tf 4:7)
Ada harapan yang lebih, saat dijanjikan oleh perempuan itu bahwa pada saat itu atasannya (Pak Sek) bisa menemuinya. Dan menyetujui undangan dari Jakarta yang dia bawa. Dengan kesopanan dan gaya ramah dia lakukan ketika dia menghilangkan rasa bosannya dahulu. Mengharap keinginannya akan dikabulkan. Tapi masih sia-sia. Kekecewaannya bertambah saat perempuan itu mengatakan begini
”.................saya tersenyum, mengangguk, mengucap selamat pagi tapi rupanya ia terburu-buru, seraya melangkah ke ruangan atasannya, ia berkata ”senin depan saja bapak kemari. Pak Sek hari ini harus ke Jakarta dan seminggu lagi baru kembali”(Gus Tf 5:7)
Ketika saya (Khairul) merasa kecewa, curiga, bahkan berburuk sangka terhadap keadaan yang tidak seperti yang diinginkan, atasan yang ingin ditemui sibuk. Pergi ke Denpasar, ke Jakarta. Dengan mudah kesana kemari. Tak pernah menghiraukan sedikitpun ada seseorang yang membutuhkannya. Menunggu untuk sepuluh hari sangatlah lama dan ini membutuhkan kesabaran penuh. Jika dipikir, Khairul seharusnya marah dan menghujat saja atasan itu. Hanya untuk menyetujui suratny saja tak ada waktu. Padahal untuk menyetujui, menandatangani tak pernah membutuhkan waktu yang lama. Tapi keheranan itu masih menyelimuti hati Khairul.
”dengan tetap terbengong-bengong, saya sampai ke meja perempuan staf pejabat itu. Mungkin tak sepenuhnya saya mendengar ketika ia berkata ”maaf Pak, Pak Sek sebentar lagi harus ke Denpasar dan kembali ke Jakarta. Kira-kira dua minggu atau sepuluh hari lagilah kemari”(Gus Tf 6:9)
Kepentingan pejabat menjadikan segala urusan lain tidak penting, di nomerduakan!! Padahal urusan itu untuk Khairul adalah segalanya. Ini adalah ironi bagi para pejabat yang mengakui dirinya ”sok sibuk” dan selalu menyibukkan dirinya.
”Bapak ini bagaimana?! Sudah saya katakan Pak Sek harus berangkat. Urusan penting!”(Gus Tf 6:10)
Seperti inilah khairul menyadari bahwa memang pejabat memandang kecil seseorang yang tidak punya jabatan. Manusia biasa seperti saya yang tak punya wewenang sedikitpun untuk menggugat kesibukan petinggi itu. Yang bebas melakukan apa saja yang penguasa inginkan. Khairul malu terhadap kesibukan dirinya. Terlalu menginginkan sesuatu yang tak pernah tercapai. Tak pernah sedikitpun digubris. Sikap acuh Pejabat itu membuat Khairul Jera. Setidaknya yang ada dibenaknya adalah Pejabat yang adil, tidak semena-mena kepada rakyatnya.
”ya,ya....”saya tergagap dan merasa malu ketika menyadari bahwa urusan pejabat itu tentu lebih penting dari sekedar undangan pameran saya..”(Gus Tf 6:11)
Pimpinan (pejabat) yang biasanya mendapat sanjungan dari rakyat kini telah pudar. Harapan-harapan mereka kian hilang. Dimana rasa kepedulian mereka yang konon katanya sebagai pengayom masyarakat!!!.
Mengingat:
Negara adalah rimba politik. Stabilitas politik negara dan karier politik penguasa hanya tergantung pada berbagai teknik yang mereka kembangkan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Thomas Hobbes (1558-1679) menambahkan perlunya suatu sistem hukum yang efektif di tangan penguasa mutlak untuk menegakkan ketertiban sosial. Rasa takut perlu dilestarikan.
(dalam ”Kuasa dan Moral”: Franz Magnis-Suseno)
Membangun masyarakat yang manusiawi.
Suatu pembangunan hanya dapat mempertahankan mutu manusiawinya apabila dilandasi oleh sikap hormat terhadap manusia. Hormat tehadap manusia berarti mengakui kedudukan yang sama, tidak memperlakukan secara objektif perencanaan. Berorientasi pada harapan-harapannya. Tidak pernah mengorbankan pihak yang satu demi keuntungan pihak yang lain, tidak membeli kemajuan dengan menyengsarakan orang lain.
Pengungkapan ini terlihat dari data diatas bahwa tidak adanya rasa kemanusiaan dari Pejabat terhadap rakyat. Khairul membutuhkan Pejabat itu untuk memberikan tembusan kepadanya untuk menghadiri undangan pameran ke Jakarta, tapi Pejabat itu tak menghiraukan. Lebih penting ia terhadap kesibukannya. Padahal salah satu pemimpin sebagai pamong rakyat adalah memiliki rasa hormat, peduli, menghargai kepada rakyat. Kepada sesama manusia. Hal ini juga berkaitan dengan teori Karl Marx (adalah Marx yang muda yang berusaha untuk mengembalikan hubungan antar manusia pada hubungan manusia dengan alam dan pekerjaan.
(Franz Von Magnis)
KESIMPULAN:
Cerpen ”ulat dalam sepatu” adalah bentuk penggugatan masyarakat terhadap para ”penguasa”. Hal ini kita tempatkan pada masa Orde baru yang pada saat itu merajalelanya korupsi dan tindak kesewenangan Pejabat terhadap rakyat. Cerpen ini dapat memberikan wacana bahwa tidak seharusnya para petinggi yang memangku Jabatan lebih, memiliki sikap seperti itu. Adakah harus memerdulikan rakyat yang membutuhkannya. Dengan semakin bagusnya sikap kepemimpinan dan bertanggungJawab terhadap kepemimpinannya. Maka tidak mungkin sebuah negara atau wilayah dapat bergerak, berjalan sesuai keinginan masyarakat. Rasa nyaman dan aman atas sikap timbal balik pejabat terhadap rakyat.
Gus Tf Sakai
Gus tf Sakai mungkin adalah sastrawan Indonesia yang “rewel” dan “sulit” apabila ditanya biografinya. Selalu, ia akan balik bertanya, “Sebagai penulis puisi atau prosa?” Ia memang menulis dengan dua nama: Gus tf untuk puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa (padahal keduanya tampak seperti tidak berbeda). Tentang dua nama ini, dalam sebuah wawancara di The Jakarta Post ia berkata pendek, “Untuk sugesti, biar keduanya serius pada masing-masingnya.” Lalu, ia akan memberikan biodata terpisah untuk setiap nama, juga sangat pendek.Gus tf Sakai dilahirkan di Payakumbuh, Sumatra Barat, tanggal 13 Agustus 1965 dengan nama asli Gustrafizal. Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional.SD, SMP, dan SMA ia tamatkan di Payakumbuh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus 1994. Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri), yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian. Publikasi pertamanya berupa cerita pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi dapat berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai. Seingatnya, sampai tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.Agak aneh bahwa hampir tidak ditemukan perbincangan atau kajian terhadap karya Gus tf Sakai sehingga khazanah sastra Indonesia tidak begitu tahu bagaimana (keunggulan) karyanya. Namun, dalam berkas yang dikirimkan Panitia Indonesia, Pusat Bahasa, kepada Panitia The SEA Write Award 2004 di Bangkok, pada kolom isian Tentang diri sendiri (Awardees to write about himsef), Gus tf Sakai menulis: “… Sampai kini berusia 38 tahun ini, kadang saya merasa masih seperti 25 tahun lalu ketika pertama mulai menulis: kecil, gugup, berasal dari keluarga miskin, yang karena keterbatasan finansial dalam ketakterbatasan impian kanak-kanak jadi tumbuh dalam dunia yang paradoks dan banyak ketakmungkinan. Masih seperti itulah saya kini, barangkali. Tegangan antara keterbatasan dan ketakterbatasan telah menjelmakan saya jadi seorang pengarang kecil yang gagap, terus terobsesi untuk keluar – melintasi apa pun. Suku, agama, ras, bahkan antara yang nyata dan tak nyata.” Dari pernyataan itu mungkin dapat kita telusuri bagaimana kecenderungan karya-karya Gus tf Sakai. Hasil karyanya adalah sebagai berikut.A. NovelSegi Empat Patah Sisi (novel remaja, Gramedia, 1990).Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)Ben (novel remaja, Gramedia, 1992)Tambo (Sebuah Pertemuan) (Grasindo, 2000). Novel itu sedang diterjemahan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Metafor Publishing.Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002)Ular Keempat (Kompas, 2005)B. Kumpulan cerpenIstana Ketirisan ( Balai Pustaka, 1996). Kumpulan cerpen itu berisikan 7 cerpen.Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen yang dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Gadisku" terdiri atas 4 cerpen, bagian kedua bertajuk "Rumah Masa Lalu" terdiri atas 3 cerpen, bagian ketiga bertajuk "Sendiri" terdiri atas 3 cerpen, dan bagian keempat bertajuk "Apatah Bisu" terdiri atas 4 cerpen. Kumpulan cerpen itu, setelah memperoleh Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, diterbitkan oleh The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002).Laba-Laba (Gramedia, 2003). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen.C. Kumpulan puisiSangkar Daging (Grasindo, 1997). Kumpulan puisi itu berisi 60 puisi terpilih yang ditulis Gus tf sepanjang tahun 1980-1995 yang dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Langkah Batu" terdiri atas 33 puisi dan bagian kedua yang bertajuk "Luka Metamorfosa" terdiri atas 27 puisi.Daging Akar (Kompas, 2005). Kumpulan puisi itu terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Daging" yang memuat 19 puisi dan bagian kedua bertajuk "Akar" yang juga memuat 19 puisi.Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.Atas kreatifitasnya itu, Gus tf Sakai banyak memenangkan hadiah dan mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.Hadiah yang dimenangkanHadiah Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Payakumbuh untuk cerpen "Usaha Kesehatan di Sekolahku" (1979)Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Anita untuk cerpen "Kisah Pinokio dan Cinderella" (1985)Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Ngidam" (1986)Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Kartini untuk cerpen "Nenek" (1986)Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Tiara untuk cerpen "Tiga Pucuk Surat Buat Muhammad" (1987)Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Estafet untuk cerpen "Gun" (1988)Hadiah Kedua Sayembara Mengarang novel dari majalah Kartini untuk novel "Buram Berlatar Suram" (1988)Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Novelet Remaja dari majalah Anita untuk novelet "Dutch Doll" (1989)Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Didaktisisme Catur Lima Episode" (1989)Hadiah Harapan Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Menunggu" (1989)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tentang Tuan Rumah dan Tamu yang Dibunuhnya" (1990)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Iqranidya Club Cilacap untuk puisi "Bola Salju" (1990)Hadiah nomine Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Suara Merdeka untuk cerpen "Urban" (1991)Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Gadis untuk novelet "Ben" (1991)Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Bali Post untuk cerpen "Sebuah Lembah Setelah Lebah Pindah" (1991)Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Lembah Berkabut" (1991)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Aforisme Anggur" (1992)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Perkawinan Mawar" (1992)Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Budaya dari Panitia Pekan Budaya Minangkabau untuk esai "Asketik, Holistik, Pradigma Modernity” (1993)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon" (1993)Hdiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Buletin Sastra Budaya Kreatif Batu untuk puisi "Daun yang Baik" (1994)Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Yayasan Taraju Sumatra Barat untuk puisi "Seseorang dalam Lorong Bernama Zaman" (1994)Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Matra untuk cerpen "Tak Ada Topeng dalam Diary" (1996)Hadiah Kedua Sayembara Penulisan Esai dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk esai "Bentuk Budaya dalam Masyarakat Multietnik" (1996)Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerber dari majalah Femina untuk novel Jilid Laki-laki untuk Ibu (1998)Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja" (1999)Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Sungguh Hidup Begitu Indah" (1999)Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Ulat dalam Sepatu" (1999)Hadiah Sembilan Terbaik Sayembara Penulisan Puisi Perdamaian dari Panitia Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace untuk puisi "Peristiwa Menanam" (1999)Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Kupu-Kupu" (1999)Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Laba-Laba" (2000)Hadiah Sepuluh Unggulan Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Karena Kita tak Bersuku" (2000)Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Upit" (2001)Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Novel Remaja dari Penerbit Mizan untuk novel Garis Lurus, Putus (2002)Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Gambar Bertulisan Kereta Lebaran" (2002)Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Novel dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Ular Keempat (2003)Hadiah cerpen pilihan Kompas untuk cerpen yang berjudul "Belatung" (2005)Penghargaan yang diterimaPenghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi "Susi 2000 M" (2002)SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004).Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia dapat melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana. Dari kampungnya itulah Gus tf Sakai kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit dan media massa terbitan Jakarta sambil memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal tempat Gus tf diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.Alamat: Jalan Sudirman No. 33 Balai Baru, Payakumbuh, Sumatra Barat, Indonesia 26212 Telepon: (0752) 94924Pos-el: gustfsakai@plasa.com dan gustfsakai@yahoo.comDari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf SakaiOLEH FADLILLAHADA kehendak untuk melupakan masa lalu pada setiap orang atau bangsa ketika sejarah masa lalu begitu pahit dan tidak disukai. Kemudian kejadian itu akan berlanjut untuk menghadirkan cerita-cerita yang menghibur hati yang terluka, kekecewaan dan kepedihan, hal ini adalah feno mena tragedi patologi sosial. Hadirnya cerita untuk menghibur kekecewaan dan kepedihan adalah dikarenakan ada lara yang hendak dilipur. Dari cerita, ada lara yang dilipur itu, merupakan kehendak untuk lari ke dunia imaji saat didapati realitas begitu buruk dan menyedihkan, persoalan seperti ini adalah realitas yang manusiawi. Jika hal itu terjadi pada diri individu barangkali ia hanya merupakan suatu kasus psikologis, tetapi apabila hal itu terjadi dalam realitas kebudayaan, maka hal ini sudah jadi persoalan tragedi kemanusiaan.Tragik kemanusiaan ini menjadi problematik dalam novel Tambo (Sebuah Pertemuan) karya Gus tf Sakai, kehadirannya adalah akibat dari sebab yang pada hari ini sudah tersembunyi. Adalah kenyataan yang sulit untuk dijelaskan tentang Rido yang bermimpi jadi Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sutan Balun), pada kenyataan itu juga (sama) Datuk Perpatih Nan Sabatang (yang ada dalam mimpi Rido itu) bermimpi menjadi Rido. Sebagaimana Swang Tse mengatakan ia bermimpi tentang kupu-kupu dan kemudian selanjutnya ia mengatakan bahwa realitas dirinya adalah mimpi dari kupu-kupu itu, tepatnya; kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse, kemudian Swang Tse berpikir dan meyakini bahwa dirinya yang sesungguhnya atau realitas sebenarnya dari dirinya adalah kupu-kupu. Swang Tse berkeyakinan kehidupannya sekarang hanyalah mimpi dari seekor kupu-kupu, karena dirinya sendiri adalah kupu-kupu itu, dan sekarang ia hanya menjalani sebuah mimpi.Cerita tentang Swang Tse ini ditulis oleh Aart van Zoest dalam bukunya Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik, terjemahan Manoekmi Sardjoe, (1990:31). Tidak jauh berbeda persoalan ini juga diungkapkan oleh Hasif Amini dalam tulisannya di jurnal Kalam (4/1995:89,90) dengan judul Seni Baca di Perpustakaan Imajiner Jorge Luis Borges dan (Antara Lain) Sastra Fantasi. Dia mengatakan: "Dalam cerita ’Reruntuhan Melingkar’, seorang rahib pagan tua mendatangi suatu reruntuhan kuil di tengah hutan, demi ’memimpikan’ sesosok anak lelaki yang kelak akan dimasukkannya ke dalam realitas; namun di saat terakhir ketika si anak sudah jadi, mendapatkan wujud fisiknya, rahib itu mulai menyadari bahwa ia juga makhluk ilusi yang diimpikan oleh orang lain…." Borges melalui diskusi atas buku-buku kuno, di mana tak terjadi perpindahan ruang, melainkan perpindahan kognitif yang berlangsung dalam waktu. Borges secara khusus dan berulang, membahas persoalan waktu ini: "memperhadapkan waktu linear yang direkayasa dunia modern, dengan waktu sirkuler (melingkar) yang bersifat mitologis". Hal ini juga barangkali relevan dengan film Vanilla Sky yang disutradarai Cameron Crowe, film yang dirujuk dari film Spanyol berjudul Abre Los Ojos (1997). Fenomena Vanilla Sky adalah fenomena kupu-kupu Swang Tse, yakni tidak berbatasnya imajinasi dan realitas akibat penderitaan yang amat sangat, sebagaimana dimainkan oleh Tom Cruise dan Penelope Cruz.Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) dalam TSP itu mengatakan bagaimana ia bermimpi jadi Rido, Barangkali ini berhubungan dengan pola narasi kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse. Kemudian pada bab 14, Alangkah Banyak Diriku, diceritakan tentang Rido yang tetap tidak tahu beda realitas dengan mimpi. Sebelumnya ada pernyataan yang lebih berat dari persoalan itu adalah Rido (Sakai, 2002:18) mengatakan; "Bagiku mimpi, seperti mimpi, dan kenyataan, nyaris tak ada bedanya." Artinya, Rido tidak lagi dapat membedakan dalam hidupnya antara mimpi dengan realitas hidup, antara imajinasi dan realitas hidup. Selanjutnya dalam kalimat yang sama dikatakan bahwa hal itu adalah fenomena kehidupannya; "… Sering aku tak tahu apakah tengah berada dalam mimpi, ataukah tengah dalam kenyataan." Rido meyakini dirinya adalah Sutan Balun atau Datuk Perpatih Nan Sabatang, dia meyakini dirinya banyak, sebagaimana dikemukakan dalam bab 14 Alangkah Banyak Diriku, (Sakai, 2000:100). Jika disamakan dengan Swang Tse, maka Swang Tse yakin dirinya adalah kupu-kupu, dan realitasnya sebagai Swang Tse dalam alam mimpi kupu-kupu. Jika kupu-kupu berhenti bermimpi, maka ia (Swang Tse) yakin akan kembali ke alamnya yang bahagia itu, yakni alam kupu-kupu. Rido juga menunggu lewat si Tu kang Kaba hal itu bertahun-tahun dan terus menunggu.Narasi seperti ini sulit dipahami, tetapi bila ia diletakkan sebagai fenomena metafora atau hakikat kehidupan, maka ia merupakan narasi yang menyembunyikan sesuatu. Dengan demikian akan muncul sesuatu itu, yakni pertanyaan yang sederhana, mengapa hal itu terjadi, dan mengapa begitu? Fenomena Rido tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja, ada satu sebab (atau beberapa sebab, banyak sebab) yang mengakibat Rido menjadi suatu fenomena. Adapun perlunya dicari sebab, karena fenomena Rido hanya dianggap sebagai akibat. Tidak mungkin penyebabnya adalah suatu realitas yang menyenangkan dan bahagia, karena jika realitas penyebabnya sesuatu yang baik, menyenangkan, bahagia, maka tentu akan mengakibatkan terjadinya kebaikan dan bahagia, dapat dipahami, serta persoalan menjadi selesai, tidak lagi suatu hal yang problemtis. Fenomena Rido sebagai narasi bukanlah suatu bentuk kebahagiaan, tetapi suatu narasi problematis yang tragis, cerita sedih. Dengan demikian, pada akhirnya fenomena Rido tentu disebabkan oleh suatu penderitaan, sistem yang buruk, kesedihan yang tidak terleraikan, yang menekannya. Ada dua dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa fenomena Rido tersebut disebabkan oleh adanya narasi tragik yang terjadi.Pertama, ketika pertanyaan itu dirujuk kepada pemikiran tulisan Pariaman (Brouwer,1984:228), maka apa yang terjadi pada Rido adalah gejala split of personality, dan memang novel ini pada mulanya berjudul Sakit, tetapi menurut Sakai adanya negosiasi dengan redaksi harian Republika (ketika novel ini akan dimuat bersambung di harian itu, sebelum diterbitkan, ungkapan pengarang kepada penulis) dan penerbit Grasindo, maka novel ini akhirnya berjudul Tambo (Sebuah Pertemuan). Fenomena split of personality ini timbul, menurut Pariaman (Brouwer,1984:202) merupakan reaksi terhadap sistem ganda kehidupan yang terlalu berat untuk dihadapi. Pendapat ini barangkali sejalan dengan cerita tentang Sybil karya Schreiber (2001:489-490), yang juga mengungkapkan bahwa keterpecahan kepribadian karena sistem ganda yang terlalu berat untuk dihadapi. Tetapi fenomena yang dihadirkan di sini di samping akibat sistem ganda yang lebih berat adalah dimungkinkan oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri.Kedua, dapat dirujuk sebab mengapa Swang Tse meyakini bahwa dunia nyata dirinya adalah kupu-kupu, dan dirinya hanyalah mimpi dari kupu-kupu, dikarenakan ia mengalami penderitaan dan kesedihan yang tidak terleraikan, yakni istri dan anaknya meninggal, ia tidak bisa menerima atau tidak kuat menerima realitas kesedihan itu, di samping selama ini hidupnya memang menderita dan puncaknya adalah kematian istrinya, sehingga ia pada satu kali bermimpi, dalam mimpinya itu ia menjadi kupu-kupu dan berkumpul dengan anak- anak dan istrinya, terbang sebagai kupu-kupu dalam taman bunga yang indah dan bahagia. Ketika ia terbangun, ia yakin bahwa realitas yang sesungguhnya dari dirinya adalah kupu-kupu, dirinya sebagai Swang Tse hanyalah mimpi buruk dari kupu-kupu. Sebuah narasi tragik dari tragedi kehidupan. Fenomena kupu-kupu Swang Tse disebabkan oleh tragik penderitaan, yang pada hakikatnya memungkinkan juga terjadi pada tragik kesedihan dari diri Rido.Tragik yang terjadi pada Rido sebagai sebab, pertama oleh sistem ganda sosial budaya dan kedua oleh kesedihan dan penderitaan dan ketiga oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri. Pada sebab pertama menurut Pariaman (Brouwer,1984:208) jarang menjadi penyebab utama, ia hanya menjadi landasan sebagai pencetusan. Namun pengaruh yang kuat memang ada pada sistem sosial yang membesarkan seseorang, sistem nilai yang dianut. Rido dibesarkan oleh sistem rumah gadang yang otoritasnya dikuasai oleh nenek tertua dan mamak laki-laki (saudara laki-laki dari ibu) tertua, ia dibesarkan oleh keluarga ibu, sistem membuat ia berjarak dengan ayahnya. Sistem budaya ini memungkinkan untuk tumbuhnya kompleks mother (kompleks ibu) sebagaimana dikatakan Pariaman (Brouwer,1984:215), dan ini terjadi pada Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sakai, 2000:69-70). Anak laki-laki dalam sistem sosial Minangkabau setelah akil balig (umur tujuh tahun) harus berpisah dengan ibunya dan tidur di surau, sedangkan masa remajanya dihabiskan di gelanggang, kemudian masa dewasanya di perantauan, ketika berkeluarga ia hanya dapat pulang ke rumah istri pada malam hari (tetapi Rido belum beristri, juga Datuk Perpatih Nan Sabatang), terakhir di masa tua kembali ke surau. Sistem sosial ini yang membuat laki-laki tidak pernah punya kamar pribadi, dalam pengertian lain laki-laki Minangkabau merupakan laki-laki rantau (tidak menetap selalu bepergian). Di samping itu sistem sosial budaya yang dihidupi tersebut bersifat ganda. Pertama, pada satu sisi secara adat tradisi ia dihidupi oleh sistem matrilineal dan di sisi agama ia dihadapkan dengan sistem patrilineal. Kedua, laras Bodi Chaniago dengan laras Koto Piliang mempunyai sistem yang berlawanan, yakni sistem Bodi Chaniago bersistem demokrat dengan Koto Piliang bersistem otokrat. Ketiga, keluarga ayah dengan keluarga ibu, keluarga ibu dengan keluarga istri, yang masing-masing dengan sistem yang berbeda.Namun pada akhirnya persoalan penyebab bukanlah sesuatu yang pasti, ia akan menunjukkan banyak sebab, dan banyak kemungkinan, dan lebih banyak hal baru yang dapat ditemukan dan dipahami. Sebagai novel ia memang akan membukakan pemikiran ke arah itu, mendorong orang untuk bertualang dalam dunia kemungkinan dan dunia mungkin. Ada fenomena cerita dari dua tokoh yang saling bermimpi lebih merupakan persoalan yang lebih memungkinkan banyak alternatif yang akan ditemukan. Paling tidak ada fenomena tokoh yang ganda, dalam pengertian lain juga suatu fenomena berkepribadian ganda, suatu fenomena tokoh yang tidak terintegrasi dalam satu kepribadian, terbelah berserpihan menjadi banyak kepribadian, banyak cerita. Hakikat yang dihadirkannya adalah persoalan identitas jati diri yang hancur, tepatnya persoalan eksistensi yang berserakan.Persoalan hakikat jati diri ini, atau eksistensi, persoalan apakah Rido yang bermimpi jadi Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang), atau apakah Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) yang bermimpi jadi Rido. Akan tetapi ketika hal ini dibawakan kepada filosofi Buddha, maka ia merupakan kupu-kupu yang bermimpi menjadi Swang Tse, karena pada sisi lain Adityawarman dalam rujukan sejarah merupakan penganut Buddha Bhairawa, dan Minangkabau sebelum Islam adalah bangsa yang beragama Hindu Buddha. Filosofi Swang Tse juga akan berhubungan dengan hakikat reinkarnasi yang sudah hilang di Minangkabau. Persoalan itu tidak berhenti sampai di sini, hal itu hanya rujukan untuk realitas narasi hari ini, karena novel TSP adalah karya sastra dengan kekinian Indonesia, hadir dalam konsep selera estetika multikultural Indonesia. Dalam bahasa pemikiran hari ini, maka TSP berbicara tentang hakikat keterpecahan identitas kepribadian dan ketidakjelasan eksistensi diri manusia Indonesia hari ini dalam konteks banyak bangsa yang tertindas oleh penguasa Indonesia.Keterpecahan kepribadian atau eksistensi Indonesia hari ini, dan pencarian pada masa lalu, pada narasi mitos, sejarah, dan tradisi, adalah kesia-siaan. Memang realitas itu sudah dilakukan pada masa rezim Soekarno dan rezim Orde Baru, memparadigmakan kebudayaan masa lalu sebagai narasi kebudayaan luhur. Pada satu sisi menjadi membelakangi masa depan dan menghadap ke masa lalu. Kemudian hiduplah kembali neofeodalisme yang tidak lebih kentalnya daripada feodalisme di zaman Kerajaan Singosari, Kediri, Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Pagaruyung. Neofeodalisme itu mendapat sambutan yang cocok dengan kebudayaan kapitalisme modern. Pada akhirnya rakyat tetap tertindas, miskin, dan menderita, dan sesudah itu karena dalam ketertindasan, penderitaan, dan kesedihan orang akan lari ke dunia cerita, narasi pelarian (apakah narasi kupu-kupu atau narasi Datuk Perpatih Nan Sabatang), maka lahirlah banyak cerita yang dapat melipur lara. ***SUMBER KOMPAS, Minggu, 04 Mei 2003Fadlillah Mahasiswa pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana,Denpasar, staf pengajarRabu 13 Juni 2007Melintas dari Sudut Kota KecilOLEH IVAN ADILLA, staf pengajar Fak Sastra UnandGuf tf (Payakumbuh, 13 Agustus 1965) adalah penyair, cerpenis dan novelis. Sastrawan dengan nama asli Gustafrizal Busra ini menjalani pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, Payakumbuh. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dan tamat pada 1994. Ia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai pengarang dan menetap di Payakumbuh. Dia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di Padang, Jakarta serta beberapa kota lain.Pengarang ini menggunakan dua nama yang berbeda untuk dua genre karyanya; untuk karya prosa ia menggunakan Gus tf Sakai, sedangkan untuk karya puisi ia mencantumkan nama Gus tf, sementara nama aslinya hanya dipakai untuk dokumen-dokumen resmi.Sebagai pengarang, Gus telah meraih banyak penghargaan atas karya-karyanya. Sejak 1985-1999, 2 novel, 7 novelet dan 14 cerita pendeknya memenangkan hadiah dan penghargaan dalam sejumlah sayembara penulisan yang diselenggarakan oleh berbagai media, seperti Femina, Gadis, Matra, Hai, juga Pusat Kajian Humaniora-UNP serta beberapa lembaga lainnya. Pada 1996 ia meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar diperolehnya tahun 2001. Pada tahun 2004, dalam usia 39 tahun, Gus meraih SEA Write Award, hadiah sastra untuk pengarang di negara-negara ASEAN. Tahun 2005 Gus dijadwalkan untuk mengikuti International Writing Program di The University of Iowa, Amerika Serikat, tetapi kemudian dibatalkan dengan alasan yang kurang jelas. Informasi yang sampai padanya adalah, “Washington belum bisa menerima Anda tahun ini, mungkin pada kesempatan yang lain”.Gus mulai menulis saat duduk di sekolah dasar pada usia 13 tahun. Karyanya yang telah dipublikasikan berupa sajak, cerpen, novelet dan novel. Sajak-sajak awalnya banyak dimuat di majalah Hai (Jakarta), Ruang Kebudayaan koran Singgalang dan Haluan (Padang), sedangkan prosanya berupa cerita pendek dan novelet diterbitkan pada majalah Gadis, Femina, Matra, dan Hai. Cerpen dan sajaknya kemudian dipublikasikan melalui berbagai surat kabar seperti Republika, Kompas, Media Indonesia, The Jakarta Post, Berita Buana, Suara Karya, Pelita, Mutiara, juga majalah Horison, Kalam, Jurnal Puisi dan Ulumul Quran. Beberapa karya Gus telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Arab, dan Portugis.Beberapa prosanya telah dibukukan. Novel remaja yang merupakan karya awalnya adalah Segi Empat patah Sisi (Jakarta: Gramedia, 1991), Segitiga Lepas Kaki (Jakarta: Gramedia, 1991), Ben (Jakarta: Gramedia, 1992). Novelnya yang telah dibukukan Tambo (Sebuah Pertemuan) (Jakarta:Grasindo,2000). Antologi cerpennya yang pertama adalah Istana Ketirisan (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), sedangkan antologi cerpennya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999) meraih hadiah Sastra Lontar 2001 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, The Barber and Other Short Stories (Jakarta: The Lontar Foundation). Beberapa cerpennya juga dimuat dalam antologi bersama, di antaranya dalam beberapa nomor cerpen pilihan Kompas. Beberapa noveletnya diterbitkan dalam antologi, Tiga Cinta, Ibu ( Jakarta: Gramedia).Kekuatan Gus tf Sakai sebagai penulis prosa terlihat sejak dari beberapa novel remaja dan noveletnya dipublikasikan. Karya awal itu memperlihatkan kesungguhan dan nuansa yang berbeda dari kecenderungan umumnya cerita remaja yang melankolis dan cair. Melalui teknik bercerita yang mengalir ia menyusupkan perenungan menuju ke pendalaman makna kisah. Karyanya yang kemudian menarik perhatian pengamat karena kemampuan bahasa, tema yang dipilih serta teknik penceritaannya. Cerpen-cerpennya merupakan perpaduan antara bahasa puitik dengan teknik penceritaan yang terjaga. Bahasanya efektif, padat serta dipenuhi monolog batin. Ceritanya bergerak melintasi wilayah geografis, gender, sosial dan budaya dengan deskripsi yang detil terhadap aspek visual dan batin tokoh-tokohnya. Cerita dibangun dalam alur yang mengalir dan menggugah rasa ingin tahun pembaca.Sebagian sajaknya dibukukan dalam Sangkar Daging (Jakarta: Grasindo,1997), sedangkan yang lainnya tersebar dalam berbagari antologi bersama yang diterbitkan oleh berbagai lembaga dan organisasi kesenian. Gus merupakan penyair termuda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata, Ketika Warna (Jakarta: Yayasan Ananda), sebuah buku yang menghimpun 50 karya penyair Indonesia sejak dari Hamzah Fansuri. Kekuatan sajak Gus tf adalah pada kandungan paradoks dan metaforanya yang efektif dan fungsional. Melalui sajak-sajaknya ia mendeksripsikan paradoks yang dipikirkannya, sehingga sajaknya ibarat medan dialog tentang masalah yang diungkapkannya. Secara persuasif ia mendesak pembaca untuk masuk dan mengalami peristiwa yang ia sajikan dalam sajaknya. Teknik seperti itu mengajak pembaca untuk menyadari dan memberikan kesadaran, bukan pemahaman.Karya terbarunya, Laba-laba (Jakarta:Gramedia), Daging Akar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas) dan Ular Keempat (Jakarta: Penerbit Buku Kompas).
Diposkan oleh Is Sikumbang di 21:29
Label: Seniman
Diposkan oleh Is Sikumbang di 21:29
Label: Seniman
Kamis, 20 November 2008
baru saja mengenal sosok Putu Wijaya
hari ini 20 November 2008 putu Wijaya telah hadir ditengah kita dalam pertunjukkan monolognya. saya sangat terkesan ketika monolog dari cerpennya dibacakan. pembacaan yang pertama adalah ketika wanita dan laki-laki dibedakan. judulnya adalah poligami. terkesan ketika seorang perempuan waktu ini saya lupa siapa yang disebutkan namanya tadi. tapi wanita itu karena neneknya mengatakan padanya "cucuku jangan percaya pada bibir lelaki tapi percayalah pada perbuatannya"....menghadirkan beberapa makna yang saya tangkap bahwa manusia tak kan bisa menjadi seperti orang lain ketika ia mendapatkan goncangan. tapi seseorang itu harus tetap menjadi kuat walaupun banyak penghalang, walaupun banyak ujian. walaupun banyak tantangan untuk meraih apa yang kita inginkan. manusia bisa meraih cita-citanya karena kekuatannya. ...
monolog yang kedua, saya menangkap kata kunci"MERDEKA, DOKTER, kekuatan, pancaran otak, keterbalikan fungsi.
yang indah menjadi tidak indah, yang buruk menjadi baik, ........semua serba terbalik.. kini merdeka hanya bisa merasakan apa yang ia minta, apa yang ia inginkan ketika perubahan itu memanfaatkannya...teriakan tolong pada seseorang hanyalah kekecohan semata. tak ada yang mau mendengar. semua acuh....."dokter mengatakan..."jadilah contoh merdeka..jadilah contoh bagi mereka yang ingin gila sepertimu..aku tak bisa merubahmu kembali seperti semula seperti apa yang sudah kulakukan untukmu....jadilah contoh merdeka........"
hatiku bergetar. aku bergetar hingga sampai desaran nafasku. kekuatanku untuk hidup menjadi diriku sendiri telah muncul. aku sungguh telah hidup.. aku hidup. dan aku memang membutuhkan hal yang seperti ini..
sampai akhirnya aku ingin bisa terinspirasi saperti Putu Wijaya. akua ingin bisa bermanfaat buat orang lain walaupun tantangan banyak didepanku. aku harus tetap maju.. tak ada kata terlambat untuk berbuat. tak ada kata terlambat untuk menang....."
" kegagalan adalah janji...kegagalan adalah kesempatan.. aku tak pernah takut akan kegagalan. karena kegagalan menjadikanku semakin kuat.."
terimakasih Bli Putu..aku mengagumi sastrawan sepertimu. tunggulah aku..
monolog yang kedua, saya menangkap kata kunci"MERDEKA, DOKTER, kekuatan, pancaran otak, keterbalikan fungsi.
yang indah menjadi tidak indah, yang buruk menjadi baik, ........semua serba terbalik.. kini merdeka hanya bisa merasakan apa yang ia minta, apa yang ia inginkan ketika perubahan itu memanfaatkannya...teriakan tolong pada seseorang hanyalah kekecohan semata. tak ada yang mau mendengar. semua acuh....."dokter mengatakan..."jadilah contoh merdeka..jadilah contoh bagi mereka yang ingin gila sepertimu..aku tak bisa merubahmu kembali seperti semula seperti apa yang sudah kulakukan untukmu....jadilah contoh merdeka........"
hatiku bergetar. aku bergetar hingga sampai desaran nafasku. kekuatanku untuk hidup menjadi diriku sendiri telah muncul. aku sungguh telah hidup.. aku hidup. dan aku memang membutuhkan hal yang seperti ini..
sampai akhirnya aku ingin bisa terinspirasi saperti Putu Wijaya. akua ingin bisa bermanfaat buat orang lain walaupun tantangan banyak didepanku. aku harus tetap maju.. tak ada kata terlambat untuk berbuat. tak ada kata terlambat untuk menang....."
" kegagalan adalah janji...kegagalan adalah kesempatan.. aku tak pernah takut akan kegagalan. karena kegagalan menjadikanku semakin kuat.."
terimakasih Bli Putu..aku mengagumi sastrawan sepertimu. tunggulah aku..
Senin, 20 Oktober 2008
rekayasa bahasa memerlukan inspiresi, seni dan otak yang encer. study sastra adalah filosofia. objek filsafat adalah kehidupan. dan objek studi sastra adalah karya yang baik, tidak lain adalah abstraksi kehidupan yang sudahdijabarkan kedalam unsur-unsur sastra seperti tema, plot, karakterisasi dan lain-lain( Budi Darma, 1989c- penghayatan terhadap kehidupan melalui karya sastra.....
Minggu, 19 Oktober 2008
awal
seandainya masih ada waktuku untuk mencerahkan orang lain maka akan ku lakukan!
setidaknya dengan usahaku semaksimal mungkin, meskipun tak banyak orang acuh padaku...
setidaknya dengan usahaku semaksimal mungkin, meskipun tak banyak orang acuh padaku...
Langganan:
Postingan (Atom)