Jumat, 12 Desember 2008

Yuneni novikawati
172144043

Kebebasan“Dalang” dalam menggerakkan cerita
”Sampek Engtay” oleh N. Riantiarno



Bentuk cerita ini adalah seolah-olah hasil pengaturan dalang. Dalang bisa dikatakan juga sebagai tokoh utama. Karena dia yang menggerakkan waktu cerita kemana saja dia inginkan. Dalang mengatur kisah Engtay dan teman-temannya. Ketika meletakkan setting di sekolah. Pada saat menceritakan Engtay ketika Engtay berusaha untuk menutupi rahasianya karena Engtay adalah sosok laki-laki yang berperilaku seperti perempuan sejak kecil.

”para pemirsa, tahu’kan siapa biang keladi perkara ini? Tidak lain dan tidak bukan Engtay sendiri. Paham kan mengapa ia berbuat demikian? Engtay ingin rahasianya terbuka. Ya kan? Mana mungkin seorang perempuan sanggup kencing sambil berdiri tanpa berceceran? Kalau kawan-kawannya memergoki bagaimana cara Engtay kencing, bagaimana? Kan mereka bisa curiga? Jadi Engtay pun berpikir keras.....................”
(Rian 393 :1)

Dalang mengisahkan pula ketika Engtay mencari jalan keluar agar peraturan yang Engtay buat untuk menutupi rahasianya tetap terlaksana. Dan dengan begitu. Maka Engtay dan teman-teman lainnya adalah sama rasa sama jongkok, sama seperti apa yang sedang dialami Engtay sebagai sosok laki-laki yang berperangai wanita. Dan ketika kisah Engtay selesai. Tiba-tiba dengan cepat Dalang merubah kondisi dan setting di sekolah. Dan meloncat pada pasar malam.

”lalu diambilnya tinta bak dan disiramkannya ke tembok-tembok WC. Tuh, jadi kotor, kan ? Engtay berhasil. Cerdik-kiawan sekali anak itu. Selanjutnya ada apa ini? Adegan apa? Oo, ya adegan Pasar Malam!”(Rian 393:2)


Dan saat Dalang mengisahkan di Pasar Malam kisah romeo dan Yuliet. Seketika itu terasa aneh. Terjadi penyetopan!! Mengatur pembaca untuk menghentikan bacaannya. Untuk mengisahkan bahwa cerita Romeo dan Yuliet bukan kisah tragedi tapi diganti dengan Komedí. Apa maksud dari Dalang. Dengan seenaknya mengatur pembaca. Tidak membiarkan pembaca untuk meneruskan imajinya. Padahal ketika itu juga imajinasi pembaca seakan-akan sudah tersortir peda satu kefokusan. Tapi ternyata dalang?

“stop, tunggu dulu, jangan dilanjutkan dulu!(membaca) Hasil pengumpulan pendapat dari para penonton, malam ini tidak dibutuhkan lakon tragedi. Ternyata penonton, malam ini tidak dilakukan lakon tragedi. Ternyata penonton kita lebih suka comedí……”(Rian 394)


Dan saat itu Dalang juga tiba-tiba menceritakan pronocitro dan Roromendhut. Ada Adipati Wiraguna. Ini sebenarnya settingnya dimana. Saat Engtay ada di sekolah. Kemudian meloncat di Paris.. Kemudian Kisah Pewayangan. Apakah saat itu Dalang yang memiliki setting sendiri. Apakah memang dalang bisa di tempat mana saja. Ataukah saat itu Dalang ada di jaman modern. Kebebasan dalang terhadap penyampaian cerita membuat pembaca seakan tunduk dan patuh terhadap ceritanya. Tidak membenaskan pembaca untuk berimajinasi semakin jauh.

(1)”luar biasa. Sekarang giliran Roromendut dan Pronocitro!”( Rian 395)

(2)”Adipati Wiraguna”(pronocitro berperang melawan Adipati. Pronocitro kalah. Lalu Roromendhut pun bunuh diri)”( Rian 396:1 )

(3)”Rupanya, kisah cinta Pronocitro dan Roromendhut tak lebih dari perang nikotin. Maka...........”(Rian 396 :2)

Tidak ada komentar: