Yuneni Novikawati
072144043/ UTS
NILAI MORAL Thomas Hobbes dalam
MENGGUGAT TINDAKAN PENGUASA
Dalam Cerpen “Ulat Dalam Sepatu” (Gus Tf sakai)
Sinopsis:
Khairul Safar adalah seorang seniman. Katakanlah ia seorang seniman ukir, beberapa waktu sebelum ia mendapat undangan pameran. Dia sering datang ke kantor Gubernur untuk menyerahkan surat kepada atasan (Pak Sek). Tapi dia selalu tidak mendapat respon karena perempuan yang menjabat staf Pak Sek selalu mengatakan bahwa atasannya sibuk, tidak bisa diganggu. Saat itu perempuan itu menjanjikan bahwa pada hari sabtu bisa bertemu dengan atasannya. Ketika ada undangan dari pusat pameran di Jakarta terhadap ukiran kedainya , dia sudah agak malas bertemu dengan perempuan itu dan meminta persetujuan kepada atasannya berkaitan meminta tembusan keberangkatan ke Jakarta. Tapi karena bujukan dari pak Hasril (wartawan koran terbitan lokal) dan orang –orang disekitar wilayahnya, akhirnya dengan niat dia datang ke kantor Gubernur itu untuk meminta persetujuan. Masih seperti seminggu sebelumnya, perempuan itu masih bersikap dengan acuh dan sok sibuk dengan menyuruh Khairul kembali lagi seminggu lagi. Tepatnya senin depan. Akhirnya Khairul merasa kecewa. Karena tuntutannya hanya untuk meminta persetujuan saja tidak dikabulkan. Atasan hanya sibuk kesana kemari, perempuan itu juga selalu mengiyakan apa yang dikatakan atasannya. Diapun berlagak sibuk. Sibuk untuk atasannya. Khairul dari awal memandang sepatu butut di sudut lemari dan meja masih tergeletak. Padahal seharusnya sudah hilang. Kemudian saat Khairul mencoba untuk mengambil sepatu itu ternyata sepatu itu lengket seakan-akan lama disitu tak pernah ada yang menyadarinya. Diambilnya sepatu itu ternyata didalamnya banyak sekali ulatnya. Sampai ia putus asa terhadap sikap atasan dan perempuan itu terhadapnya, ia merasa bahwa seakan-akan pula sepatu itu bukan disudut melainkan berpindah di tengah, dan ulatnya mulai menjalar ke tembok-tembok bahkan ke jendela, kepintu hingga tak terlihat perbedaannya. Sampai akhirnya dia tidak sedikitpun ada minat untuk kembali ke kantor itu lagi. Suatu saat Khairul naik bis melewati kantor itu, dia malah melihat tembok pada kantor itu berubah catnya. Bukan berganti cat, tapi ulatnya sudah menjalar memenuhi gedung itu.
Data: Melihat dari sosok pejabat ( Pak Sek )
Khairul mengharap bahwa suratnya dapat diterima dalam waktu yang cepat sehingga ia akan melanjutkan urusan suratnya kepada yang lain. Tapi kelihatannya atasan perempuan itu belum ada waktu terhadap surat Khairul karena keperluannya terhadap urusan lain. Timbul beberapa pertanyaan pada Khairul, ada apa dengan Pak Sek. Kenapa hanya menyetujui suratnya saja sampai harus menunggu lima hari?
”................., adakah perempuan itu benar-benar telah menyampaikan surat saya kepada atasannya? Tidakkah ia hanya pura-pura saja, kemudian membiarkan saya menunggu, agar ia merasa penting? Atau, surat itu mungkin telah diserahkannya. Atasannyalah yang belum ada waktu. Demikian sibukkah pejabat yang harus saya temui? Begitu banyakkah pekerjaannya sehingga masih harus menunggu? Sudah lima hari. Kalau benar pejabat itu begitu sibuknya, sungguh kasihan”
(Gus Tf 4:3)
Khairul merasa bosan karena sudah sekitar lima hari di kantor Gubernur tak pernah ada jawaban. Pada saat disana ia merasa tak ada gunanya. Hanya menunggu saja. Bahkan tak pernah terbesit pada hati Atasan perempuan bahwa ada seseorang yang menunggunya lama sekali hingga mondar mandir menghabiskan waktu selama lima hari. Sehingga Khairul merasa sia-sia saja jika kesana. Hanya untuk menerima undangan dari pameran itu yang dia anggap penting.
”sebetulnya saya tak yakin apakah saya memang perlu melakukan ini: datang ke kantor Gubernur. Semuanya bukan keinginan saya dan saya ragu apakah pameran itu ada gunanya. Tapi dasar nasib, pak pos......”(Gus Tf 4:7)
Ada harapan yang lebih, saat dijanjikan oleh perempuan itu bahwa pada saat itu atasannya (Pak Sek) bisa menemuinya. Dan menyetujui undangan dari Jakarta yang dia bawa. Dengan kesopanan dan gaya ramah dia lakukan ketika dia menghilangkan rasa bosannya dahulu. Mengharap keinginannya akan dikabulkan. Tapi masih sia-sia. Kekecewaannya bertambah saat perempuan itu mengatakan begini
”.................saya tersenyum, mengangguk, mengucap selamat pagi tapi rupanya ia terburu-buru, seraya melangkah ke ruangan atasannya, ia berkata ”senin depan saja bapak kemari. Pak Sek hari ini harus ke Jakarta dan seminggu lagi baru kembali”(Gus Tf 5:7)
Ketika saya (Khairul) merasa kecewa, curiga, bahkan berburuk sangka terhadap keadaan yang tidak seperti yang diinginkan, atasan yang ingin ditemui sibuk. Pergi ke Denpasar, ke Jakarta. Dengan mudah kesana kemari. Tak pernah menghiraukan sedikitpun ada seseorang yang membutuhkannya. Menunggu untuk sepuluh hari sangatlah lama dan ini membutuhkan kesabaran penuh. Jika dipikir, Khairul seharusnya marah dan menghujat saja atasan itu. Hanya untuk menyetujui suratny saja tak ada waktu. Padahal untuk menyetujui, menandatangani tak pernah membutuhkan waktu yang lama. Tapi keheranan itu masih menyelimuti hati Khairul.
”dengan tetap terbengong-bengong, saya sampai ke meja perempuan staf pejabat itu. Mungkin tak sepenuhnya saya mendengar ketika ia berkata ”maaf Pak, Pak Sek sebentar lagi harus ke Denpasar dan kembali ke Jakarta. Kira-kira dua minggu atau sepuluh hari lagilah kemari”(Gus Tf 6:9)
Kepentingan pejabat menjadikan segala urusan lain tidak penting, di nomerduakan!! Padahal urusan itu untuk Khairul adalah segalanya. Ini adalah ironi bagi para pejabat yang mengakui dirinya ”sok sibuk” dan selalu menyibukkan dirinya.
”Bapak ini bagaimana?! Sudah saya katakan Pak Sek harus berangkat. Urusan penting!”(Gus Tf 6:10)
Seperti inilah khairul menyadari bahwa memang pejabat memandang kecil seseorang yang tidak punya jabatan. Manusia biasa seperti saya yang tak punya wewenang sedikitpun untuk menggugat kesibukan petinggi itu. Yang bebas melakukan apa saja yang penguasa inginkan. Khairul malu terhadap kesibukan dirinya. Terlalu menginginkan sesuatu yang tak pernah tercapai. Tak pernah sedikitpun digubris. Sikap acuh Pejabat itu membuat Khairul Jera. Setidaknya yang ada dibenaknya adalah Pejabat yang adil, tidak semena-mena kepada rakyatnya.
”ya,ya....”saya tergagap dan merasa malu ketika menyadari bahwa urusan pejabat itu tentu lebih penting dari sekedar undangan pameran saya..”(Gus Tf 6:11)
Pimpinan (pejabat) yang biasanya mendapat sanjungan dari rakyat kini telah pudar. Harapan-harapan mereka kian hilang. Dimana rasa kepedulian mereka yang konon katanya sebagai pengayom masyarakat!!!.
Mengingat:
Negara adalah rimba politik. Stabilitas politik negara dan karier politik penguasa hanya tergantung pada berbagai teknik yang mereka kembangkan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Thomas Hobbes (1558-1679) menambahkan perlunya suatu sistem hukum yang efektif di tangan penguasa mutlak untuk menegakkan ketertiban sosial. Rasa takut perlu dilestarikan.
(dalam ”Kuasa dan Moral”: Franz Magnis-Suseno)
Membangun masyarakat yang manusiawi.
Suatu pembangunan hanya dapat mempertahankan mutu manusiawinya apabila dilandasi oleh sikap hormat terhadap manusia. Hormat tehadap manusia berarti mengakui kedudukan yang sama, tidak memperlakukan secara objektif perencanaan. Berorientasi pada harapan-harapannya. Tidak pernah mengorbankan pihak yang satu demi keuntungan pihak yang lain, tidak membeli kemajuan dengan menyengsarakan orang lain.
Pengungkapan ini terlihat dari data diatas bahwa tidak adanya rasa kemanusiaan dari Pejabat terhadap rakyat. Khairul membutuhkan Pejabat itu untuk memberikan tembusan kepadanya untuk menghadiri undangan pameran ke Jakarta, tapi Pejabat itu tak menghiraukan. Lebih penting ia terhadap kesibukannya. Padahal salah satu pemimpin sebagai pamong rakyat adalah memiliki rasa hormat, peduli, menghargai kepada rakyat. Kepada sesama manusia. Hal ini juga berkaitan dengan teori Karl Marx (adalah Marx yang muda yang berusaha untuk mengembalikan hubungan antar manusia pada hubungan manusia dengan alam dan pekerjaan.
(Franz Von Magnis)
KESIMPULAN:
Cerpen ”ulat dalam sepatu” adalah bentuk penggugatan masyarakat terhadap para ”penguasa”. Hal ini kita tempatkan pada masa Orde baru yang pada saat itu merajalelanya korupsi dan tindak kesewenangan Pejabat terhadap rakyat. Cerpen ini dapat memberikan wacana bahwa tidak seharusnya para petinggi yang memangku Jabatan lebih, memiliki sikap seperti itu. Adakah harus memerdulikan rakyat yang membutuhkannya. Dengan semakin bagusnya sikap kepemimpinan dan bertanggungJawab terhadap kepemimpinannya. Maka tidak mungkin sebuah negara atau wilayah dapat bergerak, berjalan sesuai keinginan masyarakat. Rasa nyaman dan aman atas sikap timbal balik pejabat terhadap rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar