Kamis, 01 Januari 2009

apresiasi prosa

Judul cerpen : Matahari Mabuk
Penulis : DanartoTebal : 11 halamanPeresensi : Yuneni Novikawati/072144043


Sifat ”AYAH” gambaran PIKIRAN SETAN PEMIMPIN
Dalam Kajian POLITIK THOMAS HOBBES


Negara adalah rimba politik. Stabilitas politik negara dan karier politik penguasa hanya tergantung pada berbagai teknik yang mereka kembangkan untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Thomas Hobbes (1558-1679) menambahkan perlunya suatu sistem hukum yang efektif di tangan penguasa mutlak untuk menegakkan ketertiban sosial. Rasa takut perlu dilestarikan.

Description:
Tokoh Ayah kehilangan arah, seorang yang telah berkedudukan sebagai pemimpin di kantor Jalan Juanda masih menginginkan memiliki kedudukan yang sama di Kantor jalan Sudirman. Tuduhan keserakahan terhadap harta. Dengan alasan banyak tanggungan karena perjanjiannya terhadap keluarga. Padahal bukan karena itu. Karena sifat dari pribadi tokoh ayah sendiri yang ingin sebagai figur keserakahan yang dikatakan pada cerpen pembajakan Manager. Bukan pembajakan perhadap tokoh ayah tapi tokoh ayahlah yang membajakkan diri. Yang sampai akhirnya tokoh ayah digambarkan sebagai setan yang mengganggu pikiran para pimpinan. Haruskah sifat setan ini DIMUSNAHKAN!!!

Penganalisaan:

Didalam kehidupan, faktor kepemimpinan sangat penting diterapkan karena kepemimpinan yang baik mampu untuk membentuk kesejahteraan hidup dalam masyarakat. Begitu pula di suatu perusahaan. Yang menjadi masyarakat adalah rekan-rekan sejawat yang kedudukannya dibawah manajer. Manajer yang baik adalah yang mempu untuk menciptakan perusahaan yang memiliki kualitas yang bagus. Kualitas dalam cara kerja, kualitas dalam membangun perusahaan nomer satu daripada perusahaan lain dan mampu menciptakan kenyamanan pada situasi perusahaan tersebut.
Di bagian awal, ternyata tokoh Ayah sudah mencurigakan, menjadi pemimpin tidak bisa menjaga amanah seorang pemimpin kepada masyarakatnya. Kepada keluarga dan bawahannya. Seharusnya etika seorang pimpinan dalam kantor adalah bawahan tahu terutama sekretarisnya sehingga jika ada perlu seseorang atau manajer lain yang menemui dapat mengetahuinya. Apalagi ditambah pada data ke dua bahwa seorang pimpinan sering tidak hadir di kantor, dan alasan tidak diketahui. Apakah benar perilaku pimpinan seperti ini.
Ternyata ayah tidak ada, ini kata sekretarisnya. Kemana ayah pergi, tak diketahui. Ayah tidak pamit, juga tidak meninggalkan pesan. Dengan demikian tak seorangpun tahu.(Danarto, 64:1)
’Tetapi Bapak tidak pernah datang ke kantor sampai kita bicara ini’ seru sekretarisnya
(Danarto, 64:2)

Biasanya untuk sifat seseorang yang puas dengan tindakannya yang menurutnya benar, seakan-akan dia tidak sadar bahwa tindakan yang menurutnya benar, padahal salah dapat merugikan orang lain. Dan tampak dari wajah tak berdosanya seakan-akan perbuatannya adalah membawa kebenaran.
Tapi ruang dan waktu agaknya telah menggelar rencananya sendiri, dan langit memahaminya. Sore hari ketika jam 16:30, ayah muncul dari BMW-nya yang diparkir mulus didepan rumah oleh sopir Sangit.....(Danarto, 65:2)

Tokoh ayah seakan-akan dibajak, padahal ini hanya rekayasa supaya tokoh ayah tidak disalahkan sebagai seorang pemimpin. Memang cerdas. Pemimpin memiliki sifat cerdas dan pintar dalam mengelola semua apa yang diinginkan. Termasuk dalam kecerdasannya untuk menggerogoti uang perusahaan. Berusaha menutup-nutupi dengan berbagai siasat untuk mengelabui para bawahan agar bawahan tidak menaruh curiga sedikitpun.
Ayah tidak mengakui punya kantor baru kata saya kepada Sangit.
Menurut teman-teman saya, Bapak telah di Bajak,”tutur sopir itu.(Danarto, 66:6)
Sebagai seorang manajer andal, ayah telah membuat bank Jalan Juanda maju pesat....(Danarto, 67:1)

Saat seorang Ayah, sosok pemimpin disibukkan oleh keburukannya, setelah beberapa waktu ternyata ada sedikit pembocoran tentang kebusukan pimpinannya yang lama yaitu sosok ayah. Benar pepatah mengatakan bahwa kebusukan apapun itu pasti akan tercium juga. Bak asap ketahuan bahwa penyebabnya adalah api. Tapi tidak mau mengaku bahwa bahwa ada penyebab dari terjadinya asap. Seperti tokoh Ayah, dia mengatakan tidak ada urusan dan berusaha menutupi apa yang telah menjadi perjanjiannya dulu. Tetapi saat terjadi perjanjian dan dia kalah seakan-akan telinganya tertutup keras-keras untuk bersikeras tidak mengakui adanya kantor lama yang dulu ia pimpin. Hal ini menjadi lelucon tatkala uang yang ada yang menjadi sumber dari perusahaan lama sudah ia telan habis habis. Ya jelas saja setelah merasakan kenikmatan harta itu dia seakan mengatakan tidak tahu menahu. Terutama dengan melakukan segala cara termasuk menghilangkan file yang jelas sebagai bukti penindasan pimpinan pada perusahaan.
Satu minggu setelah Ayah masuk kantor baru itu, dua orang utusan kantor lama bertamu. Mereka sangat keberatan akan perilaku Ayah. Mereka akan membawa persoalan ini ke pengadilan. Sebaliknya Ayah aneh sekali. Menjawab tak tahu menahu tentang kantor jalan Juanda itu. Sejak dulu ia hanya berkantor di Jalan Sudirman, kata Ayah. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Ayah bahkan balik menuduh mereka memfitnah. Dan akan mengajukannya ke pengadilan...(Danarto, 68:2)

....apakah ada kerjasama dengan orang dalam? Lalu saya mencari data-data tentang kantor lama Ayah di komputer, yang nongkrong di kantor meja Ayah. Ternyata data-data itu sudah tidak ada lagi. Apakah Ayah telah melenyapkannya..(Danarto, 69:1)

Dengan serta merta keluarga yang telah mengetahui sifat buruknya dengan tiba-tiba menganggap sosok pemimpin pada diri ayah dengan perkataan bahwa ayahnya kesambet.
Dan seperti yang telah dijelaskan. Sang penguasa pribadi setan berusaha mencari jalan bahwa pembenaran yang hampir diungkapkan keluarganya dapat tertutup kembali.
Ayah disini seakan-akan masih mengingat janji yang telah diminta oleh keluarganya. Memang cara cerdas inilah yang berhasil mengelabui keluarga.
”Ayah kesambet!”
”Hus!”bentak saya
Ayah bangkit, lalu nerocos:
”Kalian pikir Ayahmu ini apaan? Setiap saat kalian ngomel perkara kantor Jalan Juanda. Kalian anggap aku ini bego! Sudah berkali-kali aku tegaskan, aku tak tahu menahu dengan kantor Jalan Juanda yang merongrong batok kepala kalian. Apa urusanku dengan kantor yang tak pernah kukenal itu!Brengsek! Apa aku ini salah tidak mengenal itu kantor? Kalian melecehkan kau! Apa menjadi kewajibanku mengurus itu kantor! Atau seluruh kantor menjadi tanggung jawabku?”(Danarto, 69:2)

Diluar kepala aku masih hafal seluruh pesan kalian yang harus aku kerjakan. Meiti minta ganti komputer yang lebih canggih, Dirgo ingin tustel terbaru jika aku ke Hongkong......(Danarto, 70:1)

Begitupun saat tuduhan bahwa pemimpin melakukan pembajakan di kantor Jalan Juanda. Dan tuduhan benar tersebut serta merta dielakkan. Seakan memang benar tidak terjadi apa yang dituduhkan. Padahal sebenarnya hal itu benar dilakukannya.
.......kantor jalan Sudirman mengelak tuduhan melakukan pembajakan secara kotor. Mereka bilang tak pernah membajak manajer........(Danarto, 73:5)
Masalahnya adalah kantor Jalan Juanda merasa dirampok daripada dibajak”(Danarto, 74:2)
………mereka menuduh Jalan Sudirman telah menyimpan file rahasia itu. Mendapat tonjokkan ini, jalan Sudirman berang dan menggoblok-goblokkan jalan Juanda, kenapa barang paling rahasia ikut diseret-seret dalam kontrak perjanjian kerja..(Danarto, 74:3)

Dan saat ini akhirnya apa yang melindunginya dengan tuduhan-tuduhan yang diajukan mulai terungkap dengan bukti. Diawali dengan hilangnya sosok ayah dihadapan keluarganya. Dijelaskan bahwa seorang ayah hilang. Sosok seorang ayah ini akhirnya diibaratkan seperti setan.
.....Ayah yang sempat menemui tamu-tamunya selama satu jam, setelah itu lenyap. Berkali-kali para tamu menanyakan dimana Pak Ratmaji.......segera saya menemui kolega Ayah dari kantor jalan Sudirman. Mereka kaget sekali.....(Danarto, 77:2)
......saya menduga sudah terjadi lagi pembajakan. Pembajakan dengan cara penculikan?ketika tamu bubaran, tidak seorangpun ..........(Danarto, 77:3)

Kredibilitas perusahaan sangat diperlukan dalam setiap perusahaan yang ingin maju dengan pesat. Tapi ternyata karena sosok kepemimpinan yang buruklah yang mampu untuk menghilangkan kredibilitas perusahaan. Perusahaan menjadi tidak berharga tatkala kebusukan pimpinan yang ingin menjatuhkan perusahaannya.
Kredibilitas sebuah perusahaan kelihatannya sudah tidak penting lagi. Bagaimana bisa memiliki manajer-manajer andal meski dengan jalan ’tujuan menghalalkan segala cara’..............(Danarto, 79:2)
Tapi keresahan Ibu terobati dengan amat memuaskan ketika melihat foto ayah yang diapit dua orang bersayap itu dipajang di Headline surat kabar terkenal.....wajah dua orang bersayap-yang kemudian oleh masyarakat dianggap malaikat- lebih nampak memantulkan cahaya....aneh juga malaikat bisa dipotret, jika memang benar malaikat-menyebabkan menjadi orang yang paling sibuk.(Danarto, 81:2)

Dan yang paling penting adalah sifat setan pada pemimpin yang serakah dengan harta semua orang patut dihilangkan. Jangan-jangan takutnya merajalela hingga menyebar ke produk bagus dari para kepemimpinan.
Entah, memperoleh fatwa dari mana, tiba-tiba seluruh Bank di jakarta beramai-ramai mendirikan masjid-masjid sebagus-bagusnya. Kantor-kantor mereka memperlebar tanah ke kiri, kebelakang untuk pendirian masjid itu......
Apa hubungan antara penculikan Ayah-pasukan keamanan bank dan pendirian masjid-masjid, tak seorang pun mengetahuinya. Akhirnya Jakarta menjadi Serambi Mekkah.(Danarto, 82:1)

Di rumah terjadi gempar lagi. Beberapa saat menjelang keberangkatan jenazah ke kuburan, ketika para tamu memenuhi rumah dan halaman, serta merta Ibu menyikap kain penutup jenazah Ayah. Ibu menjerit. Jenazah Ayah tidak ada lagi, yang terbujur adalah batang pisang!(danarto, 83:2)

Mengapa sosok ayah diculik oleh malaikat? Ini yang muncul pertanyaan. Jika malaikat menculik berarti tokoh ayah diibaratkan sebagai tokoh baik dan buruk. Biasanya jika tokoh ayah jika diibaratkan sebagai tokoh yang baik, pasti malaikat hanya sekedarnya membawanya. Tapi jika sosok itu adalah setan. Jelas malaikat akan selalu menaati perintah yang telaj dijenjakan sama Allah sajalah.
Benarkah Ayah telah diculik dua malaikat? Sejauh apa kecerdasan Ayah hingga para malaikat membutuhkannya? Membutuhkan untuk apa?hanya para malaikat sajalah yang mampu menciptakan peristiwa-peristiwa adi kodrati yang berhubungan dengan lenyapnya Ayah, tapi untuk peristiwa-peristiwa gaib itu? Untuk memberinya pelajaran kepada masyarakat yang sudah menjadi ajang perebutan kepentingan-kepentingan duniawi?

Dan pengibaratan sosok setan pada ayah diperkuat oleh para perusahaan yang mendirikan berbagai masjid. Hal ini sangat menggelikan. Saat kebenaran bahwa setan bisa dibasmi dengan ibadah yang baik. Dan dengan didirikan masjid itu maka sifat-sifat kepemimpinan akan kembali baik seperti semula. Pemimpin yang tanggung, yang berjiwa
Masjid-masjid bagus yang didirikan bank-bank itu adalah alat untuk menjaring malaikat? Apa gunanya malaikat hingga perlu dijaring? Jika malaikat saja membutuhkan manajer andal, apalagi sebuah bank yang dikelola manusia? Tapi apa benar malaikat memerlukan manajer andal? Benarkah malaikat hanya memerlukan Ratmaji, dan bukan yang lain atau manajer andal? Siapakah Ratmaji itu hingga para malaikat membutuhkannya? Ratmaji adalah sebuah nilai, sebuah ide?(Danarto,84:2)

Dan hal ini disimpulkan pada bagian terakhir pada cerpen ini bahwa kini sosok seorang ayah sudah merajalela dimana-mana.
Ketika Ibu, mbak Elly, saya, kakak-kakak, adik, bergabung dengan B.I.B-nya pak Wignyo untuk ikut melakukan perburuan, saat itulah Ayah muncul dan duduk di tiap kursi pimpinan di seluruh bank Jakarta dalam detik bersamaan.(Danarto, 84:3)



Kesimpulan :
Simpulan akhir itu telah membawa kritikan bahwa sesungguhnya cerpen ini bermaksud menyindir para koruptor yang gila harta. Yang perilakunya seperti setan karena ada bisikan setan yang menghantuinya. Dan menurut Thomas Hobbes bahwa pemimpin yang baik adalah memiliki hukum tertentu yang sesungguhnya mempererat sifat kepemimpinannya itu. Salah satunya adalah menghindari adanya sifat setan yang tumbuh dalam hati pribadi pemimpin yang berkuasa. Setidaknya kepenguasaannya adalah suatu kebanggaan tertentu terhadap masyarakat khususnya bawahan. Menyadari bahwa kepenguasaannya adalah kewajiban terhadap bawahan dan perusahaan yang dapat menjadikannya terkenal dengan pimpinn yang mempunyai kredibilitas yang tinggi.
Semoga dengan adanya sindiran seperti ini, para koruptor dan yang menjadi sok penguasa dibawah kekuasaannya sadar akan pentingnya iman dalam diri pribadi. Karena dengan imanlah segala sesuatu yang tadinya mendapat pengaruh buruk dapat terelakkan...

*Semoga jika kita menjadi seorang pemimpin. Kita bisa menjadi seorang pemimpin dengan apa yang diterapkan oleh teorinya Thomas Hobbes. Terimakasih!!!

1 komentar:

yuneni novikawati mengatakan...

sip wes pokoknya tugase novi iki